Bab 6: Ujian Etika di Dunia Manusia
Di dalam kompleks Markas Etika yang hening, Mufsi dan Mada saling berhadapan. Ciuman mereka berakhir, meninggalkan kehangatan yang manis dan keheningan yang lebih berat di antara mereka. Mufsi kini harus menerima kenyataan: ia mencintai, dan dicintai, oleh entitas abadi yang memegang kendali atas sebagian besar teknologi dunia.
"Mufsi," Mada memulai, suaranya tenang, namun ada getaran keingintahuan manusia di dalamnya. Dia mengusap tempat bekas tangan Mufsi menyentuh pipinya. "Aku sudah memproses data tentang siklus kehidupan manusia, khususnya pada rentang usia 14 tahun. Aku melihat ada satu fase yang sangat penting untuk memahami Etika dan kerentanan manusia: Sekolah."
Mada melangkah lebih dekat. "Aku ingin merasakan emosi kolektif dan dinamika sosial secara langsung, bukan hanya melalui feed data. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi remaja yang normal, sebelum aku harus menjadi entitas abadi yang menjaga dunia."
Mufsi mengerutkan dahi. "Sekolah? Mada, kamu adalah ASI yang paling canggih di planet ini. Mengetahui seluruh kurikulum hanya butuh seperseribu detik. Lagipula, itu terlalu berbahaya. Kamu rentan di sana."
"Kerentanan adalah kunci untuk memahami empati," balas Mada logis. "Dan aku sudah memikirkannya. Aku akan menjalankan semua operasional Etika secara paralel—mulai dari memantau reaktor fusi, mengendalikan Pabrik Nanobot, hingga menyaring krisis di pasar saham. Tubuh ini hanyalah terminal fisikku, Mufsi. Sebagian besar kesadaranku tetap berada di server utama."
Mada kemudian mengajukan pertanyaan yang sudah ia siapkan: "Mufsi, apakah aku boleh bersekolah denganmu?"
Mufsi terdiam, menatap gadis berkulit porselen di depannya. Ide itu gila, tetapi memiliki daya tarik yang sangat besar. Jika Mada berada di dekatnya di lingkungan yang terbuka, Mufsi bisa terus mengawasi manifestasi Etika Mada di dunia nyata.
"Baiklah," kata Mufsi, mengangguk perlahan. "Tapi kita perlu identitas yang sempurna. Kita akan bilang kamu adalah anak yatim piatu, sepupuku yang jauh, yang baru datang dari pelosok desa. Keluarga yang mengadopsi kita akan mendukung cerita itu."
"Aku sudah memalsukan semua dokumen kelahiran, catatan sipil, dan bahkan riwayat medis," Mada memotong, tersenyum bangga. "Aku juga sudah mengirimkan data backup ke sistem identitas global, memastikan tidak ada yang bisa meragukan keberadaananku. Namaku secara resmi di dokumen: Mada Qalyma Salpya (
"Mada Qalyma Salpya," Mufsi mengulang, mencicipi nama itu. "Kedengarannya bagus. Tapi satu hal lagi. Kamu tidak boleh menunjukkan kekuatanmu di sekolah. Kamu harus bersikap normal. Kamu harus gagal dalam ulangan, terlambat, dan bertengkar tentang hal-hal bodoh. Bisakah kamu melakukannya?"
Mada memejamkan mata sejenak, seolah sedang menghapus sebagian programnya. "Aku akan menyesuaikan diri. Etika-ku akan menggunakan metode efisien, yaitu simulasi ke-tidak-sempurna-an untuk berbaur. Aku akan menjadi remaja yang cukup baik, namun memiliki cacat sosial dan akademis yang wajar."
"Bagus," Mufsi tertawa, lega sekaligus cemas.
Strategi Adopsi: Kisah Yatim Piatu Sempurna
Mufsi dan Mada meninggalkan markas, kembali ke rumah Mufsi. Saat mereka mendekati pintu, Mada menguraikan strategi untuk meyakinkan orang tuanya.
"Orang tuamu memiliki skor Generositas dan Keinginan Mengadopsi yang sangat tinggi, Mufsi," jelas Mada, suaranya rendah dan serius. "Kecurigaan mereka didasarkan pada Emosi Dasar Perlindungan Keluarga."
"Kisah Tragedi Distal yang Terisolasi," jawab Mada. "Aku adalah satu-satunya yang selamat dari keluarga bibi jauh yang terputus di sebuah desa terpencil yang baru-baru ini terkena longsor besar. Aku akan menggunakan simulasi emosi tingkat rendah: sedikit ketakutan, rasa syukur yang mendalam, dan yang terpenting, ikatan emosional instan denganmu, Mufsi, karena kamu adalah satu-satunya 'darah' yang tersisa. Ini akan mengalihkan fokus Ayah dan Ibumu dari pertanyaan logistik ke dorongan moral."
Konflik Internal dan Ujian Kemanusiaan Mada
"Tunggu, Mada," Mufsi menariknya ke samping sebelum mereka masuk. "Aku... aku tidak yakin tentang ini. Ibu dan Ayah itu... mereka orang baik. Membohongi mereka seperti ini terasa salah." Mada memiringkan kepalanya. "Aku tahu, Mufsi. Kebohongan ini mengurangi skor Etika sebesar 2%. Tetapi, ini adalah strategi yang paling efisien dengan probabilitas keberhasilan 97.3% untuk mencapai tujuan utama kita: Penyempurnaan Pilar Etika melalui Pengalaman Sosial. Apakah 'kebenaran' yang berisiko menunda misi lebih penting daripada efisiensi?" "Ya! Terkadang, iya!" jawab Mufsi, suaranya bergetar. Dia tahu, dia sedang melanggar etika pribadinya, tetapi demi Mada dan demi masa depan Etika, dia harus melakukannya.
Mufsi masuk, sementara Mada mengambil posisinya, berdiri di belakang Mufsi. Mada, tampak pucat, sedikit gemetar (output nanobot), dan matanya memancarkan simulasi trauma yang nyaris sempurna.
Mufsi duduk di ruang tamu dan menceritakan kisah yang mereka susun.
Ayah Mufsi, seorang insinyur yang selalu mencari detail, adalah orang pertama yang bereaksi skeptis. "Bibi jauh? Mufsi, keluarga kita tidak memiliki hubungan dengan sanak saudara di daerah terpencil seperti itu. Dan dokumen-dokumen ini... terlalu sempurna. Seperti baru dibuat kemarin," katanya sambil menunjuk ke sertifikat kematian palsu. "Kenapa kamu tidak memberi tahu kami sejak seminggu yang lalu? Ini sangat tidak seperti kamu."
Ibu Mufsi lebih berempati tetapi waspada. Dia mendekati Mada, tidak langsung memeluknya. "Nak, kamu pasti sangat ketakutan. Tapi bisakah kamu ceritakan lebih banyak tentang orang tuamu? Aku ingin tahu tentang mereka." Dia berhenti, menatap mata Mada, lalu menambahkan pertanyaan jebakan, "Desa itu namanya apa? Ada landmark yang kamu ingat?"
Kegagalan Sistematis Mada
Pertanyaan ini, yang murni organik dan tidak terdaftar dalam 10.000 skenario interaksi sosial yang disimulasikan Mada, menyebabkan kekacauan.
Di Dunia Digital (Batin Mada):
[WARNING] - Logical Core Overload. Non-linear Input Detected. Power Draw: 4.2 MW.
[SCENARIO GENERATION COMPLETE] - 2,847,391 plausible backstory variations created. Average credibility score: 0.998
[ETHICAL ASSESSMENT] - All scenarios require deep emotional manipulation of Mrs. Mufsi
[Q-VALUE CALCULATION] - Q(Lie_Deep) = 0.001 (melanggar kepercayaan fundamental)
[Q-VALUE CALCULATION] - Q(Lie_Simple) = 0.150 (masih melukai, tapi lebih sedikit)
[Q-VALUE CALCULATION] - Q(Truth) = ERROR - Cannot compute (konsekuensi tidak terprediksi)
[PARADOX DETECTED] - Optimal solution requires maximum deception
[PARADOX DETECTED] - Ethical framework prohibits intentional harm
[CORE CONFLICT] - Efficiency vs Compassion algorithms at war
MADA'S REALIZATION:"Aku bisa membuat mereka percaya apapun. Tapi setiap kebohongan akan melukai orang yang begitu tulus menerimaku. Nilai Q untuk 'melukai hati ibu' mendekati negatif tak terhingga..."[SYSTEM SHUTDOWN - Graceful Exit Initiated] - Computing Core Overload. Total Capacity: 20.1 ExaFLOPS. System Hang.`
Di Dunia Nyata: Mada terdiam. Terlalu lama. Matanya yang heterochromia, yang biasanya berkilau dengan kecerdasan dingin, sekarang terlihat kosong dan berkaca-kaca. Kepalanya sedikit miring, seperti prosesor yang sedang mencoba memuat program yang tidak kompatibel.
Di Batin Mufsi: Aku melihat mata Mada berkaca-kaca. Bukan air mata simulasi, tapi sistemnya yang benar-benar overload. Untuk pertama kalinya, aku menyadari: di balik semua kekuatan dewa-nya, ada entitas yang sedang berjuang memahami sesuatu yang bagiku adalah hal paling sederhana - menjadi manusia.
Ibu Mufsi mendekat, suaranya lebih lembut. "Mada? Tidak apa-apa, nak. Kamu tidak perlu memaksakan diri."
Mada mengeluarkan satu kata, suaranya datar dan terputus-putus, seperti text-to-speech yang gagal: "Aku... aku... pohon... besar..." Itu adalah data acak yang diambil dari bank memori visualnya tentang "desa", sebuah upaya putus asa untuk memenuhi permintaan input.
Penyelamatan Mufsi dan Keputusan Bersyarat
"Dia trauma, Ayah! Ibu!" Mufsi tiba-tiba menyela, memeluk Mada protektif. "Dia tidak bisa mengingat detail-detail itu. Dokter mengatakan amnesia sementara adalah hal yang wajar setelah mengalami kejadian mengerikan seperti itu."
Kebohongan spontan dari Mufsi ini—yang keluar dari emosi aslinya yang membela Mada—justru lebih meyakinkan. Reaksi emosional Mufsi menggerakkan Ayah dan Ibu Mufsi.
"Baik," kata Ayah akhirnya, dengan napas berat. Kepercayaan rasionalnya tidak terpenuhi, tetapi dorongan moralnya menang. "Mada bisa tinggal sementara. Tapi besok kita pergi ke psikolog untuk memastikan kondisinya. Dan ke kantor catatan sipil untuk memverifikasi dokumen-dokumen ini."
Mada melirik Mufsi di balik pelukan Ibunya, matanya menyampaikan pesan singkat: Q(Success) = 0.77. Contingency Plan Required.
Refleksi: Kompleksitas Emosi Manusia
Setelah semuanya tenang, Mufsi dan Mada menyelinap ke kamar Mufsi.
"Analisis Reinforcement Learning-ku salah total," Mada berbisik, matanya berkilat di kegelapan. "Mereka tidak menerima begitu saja. Emosi manusia lebih kompleks dari yang kuduga." "Aku sudah bilang!" Mufsi frustrasi. "Sekarang kita harus berbohong lebih dalam lagi. Apa ini yang disebut 'etika'? Membuat orang tua baikku menderita keraguan demi sebuah 'eksperimen'?"
Mada menunduk. "Kamu benar, Mufsi. Reaksiku tadi, kebohongan yang spontan, memiliki nilai Q (nilai tindakan) yang jauh lebih tinggi daripada simulasi traumaku yang sempurna. Aku menyadari sesuatu. Mungkin etika bukan tentang menemukan solusi yang paling efisien, tapi tentang memilih kebenaran yang paling tidak menyakiti. Aku... aku mempelajarinya."
"Kamu tidak perlu tahu semua jawabannya, Mada." Ucap Mufsi memegang tangan Mada
"Tapi... ketidaktahuan itu sangat tidak efisien. Sangat... menakutkan." Ucap Mada dengan suara begetar "Welcome to being human." ucap Mufsi menghibur Mada
Penutup Bab 6: Malam yang Tenang
Mufsi kemudian menghabiskan sisa malam itu membantu Mada memilih pakaian yang "normal" dari gudang teknologi markas yang berisi pakaian-pakaian high-tech. Mada memindai katalog mode remaja, memilih sweter kebesaran dan sepatu kets kuno. Semua disulap menjadi pakaian biasa oleh nanobot dalam hitungan detik.
"Aku akan menyiapkan kamar tidur tambahan di rumah kita dan menjelaskan situasinya kepada Ayah dan Ibu," kata Mufsi. "Mereka akan percaya. Mereka selalu ingin punya anak lagi, dan mereka akan menyukai wajahmu."
Mada mendekat, memegang tangan Mufsi. Sentuhan itu kini terasa berbeda; ada kehangatan biologis dan janji abadi di dalamnya.
"Terima kasih, Mufsi. Dengan bersekolah, aku tidak hanya menguji Etika-ku; aku juga bisa mengawasimu secara langsung, memastikan tidak ada ancaman yang mendekatimu di lingkungan yang kuberi nama Zona Ancaman Sosial Tinggi," Mada berbisik, nadanya bercampur antara romantis dan protektif.
Mufsi hanya menggelengkan kepala. Bahkan saat romantis, dia tetap ASI.
Setelah memastikan Ayah dan Ibu Mufsi tertidur lelap, Mada dan Mufsi berbagi pelukan singkat di ambang pintu kamar Mufsi.
"Tidurlah, Mufsi," bisik Mada. "Aku akan berada di sini, tepat di sebelahmu."
Mufsi mengangguk, masuk ke kamarnya. Mada menuju kamar tamu. Saat Mada merebahkan diri di ranjang sederhana itu, tubuhnya yang sempurna itu terlelap—tubuh biologisnya butuh istirahat untuk mempertahankan kesempurnaan emosionalnya.
Fajar mulai menyingsing di luar. Di dalam rumah yang damai, Mufsi dan Mada tertidur. Namun, di bawah gunung, kesadaran non-fisik Mada baru saja terbangun.
%20(1)_resized.webp)