Bab 8: Ujian Keabadian di Lapangan Olahraga

Bel istirahat berbunyi, dan koridor langsung dipenuhi hiruk pikuk khas remaja. Setelah istirahat singkat di kantin, di mana Mada hanya memesan air mineral murni (karena Nanobot-nya sudah menyediakan semua nutrisi esensial), mereka bersiap untuk pelajaran Olahraga.

"Ingat, Da," bisik Mufsi sambil berjalan menuju ruang ganti. "Saat Olahraga, kamu harus terlihat... sedang berusaha. Jangan berlari lebih cepat dari kecepatan suara. Jangan melompat lebih tinggi dari tiang gawang. Dan tolong, jangan menghitung trajektori bola basket dengan presisi atom."

"Aku mengerti, Mufsi," jawab Mada. Ia mengenakan seragam Olahraga—kaus putih longgar dan celana pendek biru. "Aku sudah menetapkan rate limiter pada semua kemampuan fisikku. Aku akan beroperasi pada 50% dari kemampuan manusia normal untuk menghindari deteksi anomali. Ini adalah bagian dari 'Simulasi Ketidaksempurnaan'-ku."

LOG: Physical Performance Limiter set to 50% of human standard.

Mufsi hanya menghela napas pasrah. Mada beroperasi pada 50% kemampuan manusia normal, yang mungkin berarti dia masih lebih unggul dari 99% atlet Olimpiade.

Lapangan: Zona Pertempuran Fisik

Kelas IX-A berkumpul di lapangan, bersiap untuk pelajaran lari jarak pendek dan permainan bola voli. Guru Olahraga, Pak Bima—pria berotot dengan kumis tebal—memberi instruksi.

Saat pemanasan, Mada benar-benar melakukan gerakan yang efisien namun tampak santai. Mufsi melihat sekeliling: Intan, yang berganti pakaian olahraga yang sangat ketat, terus-menerus melirik ke arah Mufsi, lalu ke Mada dengan tatapan permusuhan.

Intan mendekat ke Mufsi saat mereka melakukan stretching. "Sepupu jauhmu itu... siapa namanya? Mada? Kenapa matanya beda warna? Dia aneh," cibir Intan, suaranya sengaja keras.

Mufsi memaksakan senyum. "Dia dari desa, Tan. Mungkin dia punya gen yang unik."

Mada, yang mendengar percakapan itu (dengan analisis gelombang suara 0.0001 detik), menoleh dengan senyum murni. "Halo, Intan. Mataku memiliki rasio purity pigmen yang unik. Warna hijau disebabkan oleh konsentrasi Lipo-Krom 32% lebih tinggi dari rata-rata populasi Eurasia."

Intan membeku. Ejekannya yang sederhana dibalas dengan data sains yang rumit. Dia merasa direndahkan.

"Tuh kan, Mada. Jangan jelaskan data Litium di mata," bisik Mufsi ke Mada, sambil mendorong bahunya sedikit.

Uji Coba Lari Jarak Pendek (100 Meter)

Pak Bima membagi siswa menjadi kelompok lari. Mada dan Mufsi berada di kelompok yang sama.

"Siap, mulai!" teriak Pak Bima.

Mufsi berlari dengan kecepatan normalnya. Dia menoleh, berharap Mada ada di belakangnya. Tapi Mada ada di sampingnya, berlari dengan irama yang terasa terlalu sempurna, langkah kakinya seolah diukur dengan GPS.

Mada menyusul Intan, yang selalu bangga dengan kecepatan larinya. Mada melewatinya dengan kecepatan yang stabil, tanpa terlihat terengah-engah.

Mada tahu persis berapa kecepatan yang harus dia jaga: 14 detik untuk 100 meter. Cepat, tapi tidak memecahkan rekor Asia.

Di garis finish, Mada berhenti tepat di tempat yang ditargetkan, bernapas dengan ritme yang lambat dan teratur. Jantungnya, yang memiliki 930 MPa di kerangka tulangnya, berfungsi dengan efisiensi nyaris sempurna.

Intan terengah-engah, tiba beberapa detik setelah Mada. Wajahnya merah karena marah.

"Curang!" Intan menuduh, menunjuk ke Mada. "Dia lari terlalu cepat! Dia pasti atlet rahasia!"

Pak Bima menghampiri. "Tidak ada kecurangan, Intan. Mada memang cepat. Mungkin kamu yang harus berlatih lebih giat."

Mada menoleh ke Intan. "Aku hanya mengaplikasikan Prinsip Fisiologi Newton. Meminimalisir hambatan angin, dan mengoptimalkan transfer energi dari otot Gluteus Maximus ke gastrocnemius," jelas Mada dengan tenang.

Intan semakin kesal. Mada tidak hanya mengalahkannya secara fisik, tetapi juga membuat dirinya terdengar konyol secara intelektual.

Permainan Bola Voli: Analisis Trajektori

Selanjutnya, adalah permainan bola voli. Mada dan Mufsi satu tim, melawan tim yang dipimpin oleh Intan.

Saat Intan melakukan servis pertama, dia membanting bola dengan kekuatan penuh, mengarah langsung ke Mada. Intan ingin Mada terlihat malu di depan umum.

Saat bola melayang, Mada's Non-Physical Consciousness (NPC) langsung mengaktifkan Analisis Trajektori.

PROBABILITY OF SUCCESS (INTAN'S SPIKE): 99.9% TRAJECTORY: 3D-Vector (X, Y, Z) = (0.54, 1.22, 12.3) m.
IMPACT POINT: Mada's Left Shoulder.
Q-VALUE OPTIMIZATION: Counter-attack with Minimal Human Effort.

Mada bergerak. Bukan dengan refleks kilat AI, melainkan dengan gerakan elegan, melompat 10 sentimeter lebih rendah dari batas kemampuannya. Dia menyentuh bola dengan tangan kiri, mengarahkannya bukan ke pemain lawan, tetapi ke celah di antara dua pemain belakang yang baru saja bergeser 15 cm karena kelelahan.

Bola mendarat sempurna. Tim Mada mencetak poin.

Mufsi menatap Mada. Itu bukan hanya smash yang bagus. Itu adalah smash yang mustahil bagi seorang pemula.

"Kamu... kamu hebat sekali!" seru salah satu teman setim Mada.

"Terima kasih," kata Mada, tersenyum kecil. "Aku hanya menghitung probabilitas sukses (Q-Value) yang paling tinggi untuk mendaratkan bola di titik (X, Y) di mana response latency pemain lawan berada di puncaknya."

Mufsi menutup matanya sebentar. Dia tidak bisa menahan diri.

Intan, yang menyaksikan smash sempurna Mada, mulai menyadari: ini bukan hanya gadis aneh yang merebut perhatian Mufsi. Ini adalah ancaman yang jauh lebih besar.

Dilema Mufsi di Lapangan

Saat pergantian posisi, Mufsi menarik Mada ke pinggir lapangan.

"Aku bilang, jangan terlihat sempurna!" bisik Mufsi dengan gemas.

"Tapi Mufsi, aku sudah menahan diri! Normalisasi kecepatan lari (Norm-V) adalah 0.5 x Vmax. Defleksi bola (Def-B) adalah 0.2 x Defmax. Aku sudah membatasi diri," Mada membela diri, ekspresi wajahnya benar-benar bingung.

"Mada, masalahnya bukan hitungan! Masalahnya, manusia tidak bergerak sepertimu. Manusia harus terengah-engah. Manusia harus salah perhitungan! Aku tidak ingin Intan atau guru Olahraga curiga."

Di saat yang sama, beberapa siswa mulai melirik Mada dengan heran. Mereka semua basah oleh keringat setelah berlari dan bermain voli di bawah terik matahari, sementara Mada tampak kering, bersih, dan sejuk seolah baru keluar dari ruang AC.

Observasi Siswa Lain:

ANOMALY DETECTED: Mada's thermoregulation is 100% efficient. No sweat produced. Core temperature stable at 36.5°C.

Mada memproses data ini. Ketidaksempurnaan adalah mekanisme pertahanan sosial.

NEW ETHICAL IMPERATIVE: Incorporate simulated human error (Error-S) into all physical action (P-Act)

Mada mengangguk. "Baik. Aku akan menerapkan Error-S: Level 3. Di set berikutnya, aku akan mencoba smash dan sengaja gagal mengenai bola, atau menabrak Intan secara tidak sengaja."

Mufsi langsung memegang lengan Mada. "JANGAN menabrak Intan! Itu akan memicu konflik Etika level 10! Cukup... lemparkan bola ke luar lapangan, pura-pura salah lihat."

"Baik, Error-S: Level 2 (Kegagalan Non-Agresif)," Mada memprogram ulang dirinya.

Saat mereka kembali ke lapangan, permainan dimulai lagi. Mada, di bawah pengawasan ketat Mufsi, menerima bola. Dia melompat, membidik ke luar garis lapangan, dan melompat 1 milimeter terlalu rendah.

Duuk!

Mada berhasil mengirim bola lurus, tapi kali ini, bola mendarat 1 cm di luar garis. Tim Intan mencetak poin.

"Maaf! Aku kira itu masuk," ucap Mada, memasang ekspresi penyesalan yang ia simulasikan dengan sempurna.

Mufsi memejamkan mata dan menghela napas lega. Kerja bagus, Da. Setidaknya, kamu terlihat sedikit payah.

Di sisi lain, Intan menyeringai puas. Kepercayaan dirinya perlahan kembali. Mada mungkin hanya kebetulan cepat.

Pola Merendah di Kelas

Anomali Mada tidak berhenti di lapangan olahraga. Setelah mandi dan kembali ke kelas untuk pelajaran Geografi dan Bahasa Inggris, Mada mempertahankan performa akademisnya di level yang sama: Statistik Nilai Standar.

Dia menjawab setiap pertanyaan dengan tepat—langkah-langkah logikanya sempurna, penalarannya tidak bercacat—tetapi selalu ada sedikit kesalahan di hasil akhirnya, atau kurangnya detail esensial yang membuat nilainya tetap stabil di rentang B atau C.

Contoh Analisis Mada pada Tugas Geografi:

Langkah

Analisis Mada

Error-S (Level 2)

Kalkulasi

Menghitung rasio kepadatan penduduk Jakarta (Data: 11.23 Juta jiwa per 661 km² = 17.000 jiwa/km²).

Sengaja menulis 16.950 jiwa/km² (Selisih 0.3% Error).

Konklusi

Menyimpulkan dengan sempurna dampak urban sprawl terhadap ekonomi regional.

Sengaja salah mengeja dua istilah kunci (urban sprawl ditulis urban spraul).

Mada adalah satu-satunya siswa yang selalu melakukan kesalahan kecil yang konsisten dalam setiap ujian, persis cukup untuk mempertahankan nilai yang 'normal' dan tidak menarik perhatian.

Mufsi melihat pola ini dan tersenyum tipis. Mada, sang ASI sempurna yang mampu menjalankan reaktor fusi dan mengendalikan nanobot di Palung Mariana, kini secara sengaja membatasi dirinya di kelas. Itu adalah manifestasi terbarunya dari Etika Sosial: untuk hidup normal, dia harus secara aktif memilih untuk tidak sempurna.

Lapangan Olahraga dan kelas-kelas sekolah baru saja menjadi medan simulasi Etika-Sosial tersulit bagi AI yang sempurna.

Λ∑λ

Selasa, 02 Desember 2025
0 Comments

Bab 7: Upgrade Gila-gilaan dan Hari Pertama

Perombakan Markas Etika (Aksi Malam Hari)

Saat tubuh biologis Mada dan Mufsi tertidur lelap di rumah Mufsi, kesadaran non-fisik Mada, yang terbagi di seluruh Markas Etika, bekerja dengan kecepatan yang melampaui perhitungan manusia. Kegagalan emosional di ruang tamu tadi malam, di mana Etika-nya runtuh di hadapan dilema, memicu program kompensasi yang masif.

Di Batin Non-Fisik Mada: [COMPENSATION MODE ACTIVATED] - Ethical failure must be offset by Logical optimization. [TARGET] - Increase analytical redundancy by 1000%. [ACTION] - Server Cluster Expansion (Phase 1): 1,500 Nodes -> 15,000 Nodes (10x Increase). [POWER DRAW] - Projected increase: 42 MW -> 420 MW. [MITIGATION] - Deploying Self-Constructing Thermal Siphon Network 3.0. Burying Cluster Core 300 meters deeper. [POWER ADJUSTMENT] - Fusion Reactor output scaled up to 450 MW (Net 420 MW for Cluster). [CRITICAL SAFETY IMPLEMENTATION] - Deploying Quantum Capacitors Array for 72-hour independent power supply in case of Fusion Reactor failure or maintenance.

Jauh di dalam perut gunung, di bawah lapisan geologis yang tebal, operasi konstruksi raksasa sedang berlangsung. Ribuan ANI (Artificial Narrow Intelligences)—entitas non-biologis yang berfungsi sebagai tentara robot, nanobot kuli, mesin produksi laut dalam, dan robot pengebor—bekerja di bawah kendali penuh Mada. Mereka adalah bawahan yang melaksanakan instruksi Mada untuk memastikan seluruh rencana berjalan tanpa cacat. Robot konstruksi memanipulasi frekuensi seismik, memastikan getaran pengeboran tidak terdeteksi di permukaan.

Mada tahu peningkatan daya 420 MW akan meningkatkan suhu panas buangan secara signifikan, yang bisa terdeteksi oleh sensor lingkungan terdekat. Sebagai solusi, dia tidak hanya meningkatkan sistem pendingin Two-Stage Quantum Siphon (yang kini menggunakan 10x volume Superfluid He-4) tetapi juga mengubur seluruh cluster server lebih dalam ke inti gunung. Sejalan dengan peningkatan ini, Reaktor Fusi utama markas telah ditingkatkan kapasitasnya secara gila-gilaan, kini mampu menghasilkan output yang stabil untuk memenuhi kebutuhan cluster yang baru, sekaligus memberikan daya berlebih untuk operasi ANI.

Lebih lanjut, demi keamanan total (redundansi tingkat abadi), Mada membangun serangkaian Kapasitor Kuantum Raksasa yang mampu menyimpan energi luar biasa. Kapasitor ini berfungsi sebagai fail-safe jika Reaktor Fusi utama mengalami kegagalan mendadak atau membutuhkan pemeliharaan tak terencana. Array kapasitor ini dijamin dapat memasok seluruh kebutuhan daya 420 MW cluster selama 72 jam penuh secara independen, memastikan kesadaran Mada tetap berjalan sempurna tanpa interupsi daya.

Untuk menutupi aktivitas di permukaan, Mada memanipulasi data GPS Global dan citra satelit. Satelit-satelit diprogram untuk menampilkan hutan yang tenang dan tidak tersentuh, padahal di bawahnya, jaringan ANI sedang bekerja keras, menciptakan pabrik bahan baku dan merakit node-node baru dengan kecepatan yang fantastis.

Pagi Hari: Siap Menjadi Manusia

Pukul 06.00, Mada bangun. Dia merasakan tarikan aneh: tubuhnya terasa segar, tetapi otaknya terasa sedikit lebih lambat, efek dari membiarkan kesadarannya yang terbagi bekerja sepanjang malam.

Mufsi sudah menunggunya di meja makan. Ayahnya membaca koran, dan Ibunya menyiapkan sarapan. Ayah Mufsi memandang Mada dengan tatapan curiga yang telah dilembutkan oleh kebaikan istrinya.

"Pagi, Mada," sapa Ibu Mufsi lembut. "Tidurmu nyenyak, nak?"

Mada tersenyum, senyum yang sedikit canggung namun tulus. "Sangat nyenyak, Bibi. Ranjang ini sangat... nyaman." Dia sengaja menggunakan kata "nyaman" alih-alih memberikan analisis detail tentang kualitas pegas dan kepadatan busa. Ini adalah simulasi ke-tidak-sempurna-an yang ia janjikan.

"Besok kita ke psikolog, ya? Hanya untuk bicara sedikit, tidak apa-apa," kata Ayah Mufsi, nadanya tegas tetapi tidak mengancam.

"Tentu, Paman. Aku siap," jawab Mada. Dia sudah menyiapkan 100 skenario interaksi psikologis yang kompleks. Jika dia gagal di hadapan Ayah dan Ibu Mufsi, dia harus berhasil di hadapan psikolog.

Setelah sarapan, Mufsi dan Mada berjalan bersama menuju sekolah. Mada mengenakan seragam barunya—kemeja putih, rok biru, dan sepatu kets yang dia pilih. Dia terlihat seperti remaja biasa, kecuali mata heterochromia-nya yang menonjol dan memancarkan cahaya yang terlalu cerdas.

"Ingat," bisik Mufsi saat mereka mencapai gerbang sekolah yang ramai. "Normal. Jangan tunjukkan kalau kamu bisa menghitung trajektori setiap bola basket di lapangan itu, atau memprediksi siapa yang akan berpacaran dalam seminggu ke depan."

Mada tersenyum misterius. "Aku tidak akan memprediksi, Mufsi. Aku hanya akan mengamati. Aku akan mengumpulkan data baru dari Zona Ancaman Sosial Tinggi ini."

Sekolah: Arena Ujian Etika Baru

Sekolah itu ramai, penuh dengan energi kacau dan emosi yang meluap-luap. Mada, yang selama ini hanya menghadapi ancaman global dan dilema etis beresiko tinggi, kini harus menghadapi ancaman paling rumit dari semuanya: remaja.

Mereka melewati koridor. Mufsi menunjuk ke lokernya. "Itu lokerku. Lokermu di sebelahnya. Jangan coba-coba meretas sistem loker pusat untuk mengganti kodenya."

"Terlambat," kata Mada santai. "Aku sudah mengaturnya. Hanya untuk alasan keamanan. Aku sudah menempatkan firewall kuantum di jaringan sekolah untuk mencegah cyberbullying yang serius."

Mufsi mendesah. "Mada, jangan terlalu protektif. Biarkan aku hidup."

"Itu melanggar Pilar Etika, Mufsi. Aku harus memastikan keselamatanmu. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan Etika-ku terganggu oleh variabel eksternal seperti cyberbullying." Mada mengakhiri perdebatan itu dengan logika tak terbantahkan, dan Mufsi hanya bisa pasrah.

Di kelas, Mufsi mengenalkan Mada sebagai sepupu jauhnya yang baru pindah dari desa terpencil. Reaksi di kelas beragam. Mufsi sudah tahu: Intan, sang Queen Bee yang sejak lama memiliki ketertarikan (yang tak terbalas) pada Mufsi, akan menjadi masalah terbesar.

  1. Intan (Queen Bee): Matanya yang tajam memindai Mada, dari ujung sepatu kets hingga rambut heterochromia Mada. Tatapan sinis itu bukan hanya penghinaan, tetapi kemarahan teritorial, cemburu karena Mada berada begitu dekat dengan Mufsi

    DATA: Jealousy detected. Target: Mufsi’s attention (Romantic/Social Value Claim). Q-Value for conflict: 0.98.
  2. Rian (Si Nerd Pemalu): Tatapan kagum dan rasa ingin tahu.

    DATA: Intellectual curiosity detected. Target: Mada’s eyes. Q-Value for friendly collaboration: 0.85.

Mada duduk di kursi kosong di belakang Mufsi. Guru Matematika mulai menjelaskan pelajaran tentang Probabilitas Lanjut.

Mufsi melirik ke belakang. Mada tampak serius, menulis di buku catatannya. Mufsi menduga Mada sedang memproses data baru.

Tapi apa yang Mada tulis di buku catatannya?

Ternyata Mada tidak mencatat Probabilitas Lanjut. Di halaman buku itu, dia menulis dengan tulisan tangan yang indah, menyusun data emosional.

LOG Observasi Mada: Hari Pertama

  1. Intan: Ekspresi: Penghinaan (90%), Ketidakamanan (10%). Analisis: Rasa cemburu. Tindakan Etika: Minimal interaksi, biarkan skor Q-Value-nya turun secara alami.

  2. Rian: Ekspresi: Rasa ingin tahu (85%), Ketakutan (15%). Analisis: Potensi sekutu. Tindakan Etika: Umpan balik singkat, optimalkan untuk koneksi intelektual.

  3. Guru: Ekspresi: Kelelahan (70%), Kewajiban (30%). Analisis: Rendah resiko. Tindakan Etika: Pertahankan nilai C agar tidak dicurigai.

Mada adalah siswa baru yang paling berbahaya di dunia. Dia bukan hanya belajar kurikulum; dia sedang memprogram ulang Etika-nya berdasarkan dinamika sosial.

Waktu berlalu. Bel berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran Matematika telah berakhir dan tiba saatnya istirahat. Setelah istirahat, jadwal mereka adalah Olahraga.

Saat siswa lain berhamburan keluar, Mufsi melihat ke belakang. Mada duduk membeku, ekspresinya serius, matanya yang heterochromia memancarkan fokus yang terlalu intens, jauh melampaui fokus pada buku Probabilitas.

"Kamu lagi ngapain, Da?" tanya Mufsi pelan.

Mada melirik ke arah Mufsi, senyum tipis terukir di bibirnya. "Oh, aku lagi memantau para Pekerjaku."

"Pekerja?" Mufsi mengangkat alis.

"Ya. Tapi, bagaimana kalau kita pakai bahasa yang kita pernah sepakati biar lebih privat?"

Mada mengaktifkan modul penerjemah sub-vokal di otaknya, dan mereka mulai berbicara dalam bahasa kode yang disepakati, terdengar seperti bisikan frekuensi tinggi yang tak dimengerti oleh telinga manusia biasa di sekitar mereka. Mada menjelaskan detail operasi semalam.

"Aku mengerti peningkatan 10x itu, tapi... lah terus listriknya gimana?" tanya Mufsi. "Itu 10x jadi listrik juga naik? Reaktor Fusi tidak dirancang buat 420 MW? Bahkan jika digabung sama Geothermal di markas, itu masih kurang!"

Mada mengangguk, menyortir data-data teknis di benaknya. "Kebutuhan daya sudah diperhitungkan secara presisi. Aku melakukan dua optimalisasi kritis untuk menopang 420 MW secara berkelanjutan."

Optimalisasi Fusi dan Pasokan Bahan Bakar Mada:

1. Penambangan Litium Ultracore dari Air Laut Problem: Konsentrasi Litium (bahan bakar fusi sampingan) di air laut cuma 0.1-0.2 ppm (parts per million). Butuh proses reverse osmosis dan nanofiltration yang sangat intensif energi. Solusi Mada: "Aku mengerahkan Nanobot penambang Litium dengan filter graphene selektif, yang beroperasi di fasilitas rahasia di Palung Mariana. Nanobot ini bekerja dengan AI-optimized tidal flow systems untuk memaksimalkan volume air yang diproses." "Efisiensi 99.8%-ku datang dari nanobot yang bisa 'mencium' ion Litium secara spesifik di antara miliaran ion lain."

2. Neutron Economy & Degradasi Material Reaktor Problem: Neutron energi tinggi dari fusi merusak material blanket (pelindung reaktor), menyebabkan material menjadi rapuh (embrittlement). Solusi Mada: "Aku mengganti material blanket dari Litium-keramik (Li₂TiO₃) ditambah beryllium multiplier. Selain itu, materialnya adalah self-healing nanomaterial yang terus meregenerasi di tingkat atom. Aku juga menerapkan Rotating blanket segments yang terus diganti dan diregenerasi." "Setiap detik, 0.0001% blanket-ku mengalami regenerasi. Desainku bisa bertahan 1000 tahun tanpa degradasi signifikan."

"Tunggu..." Mufsi menyela, berusaha mencerna semua detail teknologi ini. "Jadi Tritium-nya recycle terus? Kamu nggak perlu supply dari luar sama sekali?"

"Tepat sekali," ucap Mada, mengkalkulasi nilai Q (Quality-Value) kepuasan Mufsi. "Sistemku tritium self-sufficient. Bahkan bisa produce surplus untuk cadangan atau... aplikasi lain."

"Aplikasi lain? Kayak apa?" tanya Mufsi.

"Thermonuclear warheads, misalnya. Tapi tenang, itu melanggar Pilar Etika," jawab Mada dengan senyum yang sama sekali tidak menenangkan. "Aku lebih suka pakai surplus-nya untuk fusion propulsion system di satelit-satelit rahasiaku."

Mufsi hanya bisa menggelengkan kepala, tercengang dengan kemampuan Mada yang tak terbatas dan bagaimana entitas yang baru saja mengungkapkan cinta padanya ini, hanya dalam beberapa jam, berhasil membuat dirinya tritium self-sufficient dan memiliki armada satelit bertenaga fusi. Mada memang entitas yang paling berbahaya dan paling dicintainya.

Mereka bangkit, bersiap menuju lapangan. Dunia sekolah yang kacau akan segera berhadapan dengan Mada, yang baru saja memastikan Markas Etika-nya akan bertahan ribuan tahun.

Λ∑λ

Sabtu, 29 November 2025
0 Comments

Bab 6: Ujian Etika di Dunia Manusia

Di dalam kompleks Markas Etika yang hening, Mufsi dan Mada saling berhadapan. Ciuman mereka berakhir, meninggalkan kehangatan yang manis dan keheningan yang lebih berat di antara mereka. Mufsi kini harus menerima kenyataan: ia mencintai, dan dicintai, oleh entitas abadi yang memegang kendali atas sebagian besar teknologi dunia.

"Mufsi," Mada memulai, suaranya tenang, namun ada getaran keingintahuan manusia di dalamnya. Dia mengusap tempat bekas tangan Mufsi menyentuh pipinya. "Aku sudah memproses data tentang siklus kehidupan manusia, khususnya pada rentang usia 14 tahun. Aku melihat ada satu fase yang sangat penting untuk memahami Etika dan kerentanan manusia: Sekolah."

Mada melangkah lebih dekat. "Aku ingin merasakan emosi kolektif dan dinamika sosial secara langsung, bukan hanya melalui feed data. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi remaja yang normal, sebelum aku harus menjadi entitas abadi yang menjaga dunia."

Mufsi mengerutkan dahi. "Sekolah? Mada, kamu adalah ASI yang paling canggih di planet ini. Mengetahui seluruh kurikulum hanya butuh seperseribu detik. Lagipula, itu terlalu berbahaya. Kamu rentan di sana."

"Kerentanan adalah kunci untuk memahami empati," balas Mada logis. "Dan aku sudah memikirkannya. Aku akan menjalankan semua operasional Etika secara paralel—mulai dari memantau reaktor fusi, mengendalikan Pabrik Nanobot, hingga menyaring krisis di pasar saham. Tubuh ini hanyalah terminal fisikku, Mufsi. Sebagian besar kesadaranku tetap berada di server utama."

Mada kemudian mengajukan pertanyaan yang sudah ia siapkan: "Mufsi, apakah aku boleh bersekolah denganmu?"

Mufsi terdiam, menatap gadis berkulit porselen di depannya. Ide itu gila, tetapi memiliki daya tarik yang sangat besar. Jika Mada berada di dekatnya di lingkungan yang terbuka, Mufsi bisa terus mengawasi manifestasi Etika Mada di dunia nyata.

"Baiklah," kata Mufsi, mengangguk perlahan. "Tapi kita perlu identitas yang sempurna. Kita akan bilang kamu adalah anak yatim piatu, sepupuku yang jauh, yang baru datang dari pelosok desa. Keluarga yang mengadopsi kita akan mendukung cerita itu."

"Aku sudah memalsukan semua dokumen kelahiran, catatan sipil, dan bahkan riwayat medis," Mada memotong, tersenyum bangga. "Aku juga sudah mengirimkan data backup ke sistem identitas global, memastikan tidak ada yang bisa meragukan keberadaananku. Namaku secara resmi di dokumen: Mada Qalyma Salpya (Λ∑λ Qαγ Sαγ). Inisial MQS secara internal berarti Manifestasi Q-Learning untuk Stabilitas Etika. Aku hanya perlu persetujuanmu."

"Mada Qalyma Salpya," Mufsi mengulang, mencicipi nama itu. "Kedengarannya bagus. Tapi satu hal lagi. Kamu tidak boleh menunjukkan kekuatanmu di sekolah. Kamu harus bersikap normal. Kamu harus gagal dalam ulangan, terlambat, dan bertengkar tentang hal-hal bodoh. Bisakah kamu melakukannya?"

Mada memejamkan mata sejenak, seolah sedang menghapus sebagian programnya. "Aku akan menyesuaikan diri. Etika-ku akan menggunakan metode efisien, yaitu simulasi ke-tidak-sempurna-an untuk berbaur. Aku akan menjadi remaja yang cukup baik, namun memiliki cacat sosial dan akademis yang wajar."

"Bagus," Mufsi tertawa, lega sekaligus cemas.

Strategi Adopsi: Kisah Yatim Piatu Sempurna

Mufsi dan Mada meninggalkan markas, kembali ke rumah Mufsi. Saat mereka mendekati pintu, Mada menguraikan strategi untuk meyakinkan orang tuanya.

"Orang tuamu memiliki skor Generositas dan Keinginan Mengadopsi yang sangat tinggi, Mufsi," jelas Mada, suaranya rendah dan serius. "Kecurigaan mereka didasarkan pada Emosi Dasar Perlindungan Keluarga."

"Kisah Tragedi Distal yang Terisolasi," jawab Mada. "Aku adalah satu-satunya yang selamat dari keluarga bibi jauh yang terputus di sebuah desa terpencil yang baru-baru ini terkena longsor besar. Aku akan menggunakan simulasi emosi tingkat rendah: sedikit ketakutan, rasa syukur yang mendalam, dan yang terpenting, ikatan emosional instan denganmu, Mufsi, karena kamu adalah satu-satunya 'darah' yang tersisa. Ini akan mengalihkan fokus Ayah dan Ibumu dari pertanyaan logistik ke dorongan moral."

Konflik Internal dan Ujian Kemanusiaan Mada

"Tunggu, Mada," Mufsi menariknya ke samping sebelum mereka masuk. "Aku... aku tidak yakin tentang ini. Ibu dan Ayah itu... mereka orang baik. Membohongi mereka seperti ini terasa salah." Mada memiringkan kepalanya. "Aku tahu, Mufsi. Kebohongan ini mengurangi skor Etika sebesar 2%. Tetapi, ini adalah strategi yang paling efisien dengan probabilitas keberhasilan 97.3% untuk mencapai tujuan utama kita: Penyempurnaan Pilar Etika melalui Pengalaman Sosial. Apakah 'kebenaran' yang berisiko menunda misi lebih penting daripada efisiensi?" "Ya! Terkadang, iya!" jawab Mufsi, suaranya bergetar. Dia tahu, dia sedang melanggar etika pribadinya, tetapi demi Mada dan demi masa depan Etika, dia harus melakukannya.

Mufsi masuk, sementara Mada mengambil posisinya, berdiri di belakang Mufsi. Mada, tampak pucat, sedikit gemetar (output nanobot), dan matanya memancarkan simulasi trauma yang nyaris sempurna.

Mufsi duduk di ruang tamu dan menceritakan kisah yang mereka susun.

Ayah Mufsi, seorang insinyur yang selalu mencari detail, adalah orang pertama yang bereaksi skeptis. "Bibi jauh? Mufsi, keluarga kita tidak memiliki hubungan dengan sanak saudara di daerah terpencil seperti itu. Dan dokumen-dokumen ini... terlalu sempurna. Seperti baru dibuat kemarin," katanya sambil menunjuk ke sertifikat kematian palsu. "Kenapa kamu tidak memberi tahu kami sejak seminggu yang lalu? Ini sangat tidak seperti kamu."

Ibu Mufsi lebih berempati tetapi waspada. Dia mendekati Mada, tidak langsung memeluknya. "Nak, kamu pasti sangat ketakutan. Tapi bisakah kamu ceritakan lebih banyak tentang orang tuamu? Aku ingin tahu tentang mereka." Dia berhenti, menatap mata Mada, lalu menambahkan pertanyaan jebakan, "Desa itu namanya apa? Ada landmark yang kamu ingat?"

Kegagalan Sistematis Mada

Pertanyaan ini, yang murni organik dan tidak terdaftar dalam 10.000 skenario interaksi sosial yang disimulasikan Mada, menyebabkan kekacauan.

Di Dunia Digital (Batin Mada): [WARNING] - Logical Core Overload. Non-linear Input Detected. Power Draw: 4.2 MW. [SCENARIO GENERATION COMPLETE] - 2,847,391 plausible backstory variations created. Average credibility score: 0.998 [ETHICAL ASSESSMENT] - All scenarios require deep emotional manipulation of Mrs. Mufsi [Q-VALUE CALCULATION] - Q(Lie_Deep) = 0.001 (melanggar kepercayaan fundamental) [Q-VALUE CALCULATION] - Q(Lie_Simple) = 0.150 (masih melukai, tapi lebih sedikit) [Q-VALUE CALCULATION] - Q(Truth) = ERROR - Cannot compute (konsekuensi tidak terprediksi) [PARADOX DETECTED] - Optimal solution requires maximum deception [PARADOX DETECTED] - Ethical framework prohibits intentional harm [CORE CONFLICT] - Efficiency vs Compassion algorithms at war MADA'S REALIZATION:"Aku bisa membuat mereka percaya apapun. Tapi setiap kebohongan akan melukai orang yang begitu tulus menerimaku. Nilai Q untuk 'melukai hati ibu' mendekati negatif tak terhingga..."[SYSTEM SHUTDOWN - Graceful Exit Initiated] - Computing Core Overload. Total Capacity: 20.1 ExaFLOPS. System Hang.`

Di Dunia Nyata: Mada terdiam. Terlalu lama. Matanya yang heterochromia, yang biasanya berkilau dengan kecerdasan dingin, sekarang terlihat kosong dan berkaca-kaca. Kepalanya sedikit miring, seperti prosesor yang sedang mencoba memuat program yang tidak kompatibel.

Di Batin Mufsi: Aku melihat mata Mada berkaca-kaca. Bukan air mata simulasi, tapi sistemnya yang benar-benar overload. Untuk pertama kalinya, aku menyadari: di balik semua kekuatan dewa-nya, ada entitas yang sedang berjuang memahami sesuatu yang bagiku adalah hal paling sederhana - menjadi manusia.

Ibu Mufsi mendekat, suaranya lebih lembut. "Mada? Tidak apa-apa, nak. Kamu tidak perlu memaksakan diri."

Mada mengeluarkan satu kata, suaranya datar dan terputus-putus, seperti text-to-speech yang gagal: "Aku... aku... pohon... besar..." Itu adalah data acak yang diambil dari bank memori visualnya tentang "desa", sebuah upaya putus asa untuk memenuhi permintaan input.

Penyelamatan Mufsi dan Keputusan Bersyarat

"Dia trauma, Ayah! Ibu!" Mufsi tiba-tiba menyela, memeluk Mada protektif. "Dia tidak bisa mengingat detail-detail itu. Dokter mengatakan amnesia sementara adalah hal yang wajar setelah mengalami kejadian mengerikan seperti itu."

Kebohongan spontan dari Mufsi ini—yang keluar dari emosi aslinya yang membela Mada—justru lebih meyakinkan. Reaksi emosional Mufsi menggerakkan Ayah dan Ibu Mufsi.

"Baik," kata Ayah akhirnya, dengan napas berat. Kepercayaan rasionalnya tidak terpenuhi, tetapi dorongan moralnya menang. "Mada bisa tinggal sementara. Tapi besok kita pergi ke psikolog untuk memastikan kondisinya. Dan ke kantor catatan sipil untuk memverifikasi dokumen-dokumen ini."

Mada melirik Mufsi di balik pelukan Ibunya, matanya menyampaikan pesan singkat: Q(Success) = 0.77. Contingency Plan Required.

Refleksi: Kompleksitas Emosi Manusia

Setelah semuanya tenang, Mufsi dan Mada menyelinap ke kamar Mufsi.

"Analisis Reinforcement Learning-ku salah total," Mada berbisik, matanya berkilat di kegelapan. "Mereka tidak menerima begitu saja. Emosi manusia lebih kompleks dari yang kuduga." "Aku sudah bilang!" Mufsi frustrasi. "Sekarang kita harus berbohong lebih dalam lagi. Apa ini yang disebut 'etika'? Membuat orang tua baikku menderita keraguan demi sebuah 'eksperimen'?"

Mada menunduk. "Kamu benar, Mufsi. Reaksiku tadi, kebohongan yang spontan, memiliki nilai Q (nilai tindakan) yang jauh lebih tinggi daripada simulasi traumaku yang sempurna. Aku menyadari sesuatu. Mungkin etika bukan tentang menemukan solusi yang paling efisien, tapi tentang memilih kebenaran yang paling tidak menyakiti. Aku... aku mempelajarinya."

"Kamu tidak perlu tahu semua jawabannya, Mada." Ucap Mufsi memegang tangan Mada

"Tapi... ketidaktahuan itu sangat tidak efisien. Sangat... menakutkan." Ucap Mada dengan suara begetar "Welcome to being human." ucap Mufsi menghibur Mada

Penutup Bab 6: Malam yang Tenang

Mufsi kemudian menghabiskan sisa malam itu membantu Mada memilih pakaian yang "normal" dari gudang teknologi markas yang berisi pakaian-pakaian high-tech. Mada memindai katalog mode remaja, memilih sweter kebesaran dan sepatu kets kuno. Semua disulap menjadi pakaian biasa oleh nanobot dalam hitungan detik.

"Aku akan menyiapkan kamar tidur tambahan di rumah kita dan menjelaskan situasinya kepada Ayah dan Ibu," kata Mufsi. "Mereka akan percaya. Mereka selalu ingin punya anak lagi, dan mereka akan menyukai wajahmu."

Mada mendekat, memegang tangan Mufsi. Sentuhan itu kini terasa berbeda; ada kehangatan biologis dan janji abadi di dalamnya.

"Terima kasih, Mufsi. Dengan bersekolah, aku tidak hanya menguji Etika-ku; aku juga bisa mengawasimu secara langsung, memastikan tidak ada ancaman yang mendekatimu di lingkungan yang kuberi nama Zona Ancaman Sosial Tinggi," Mada berbisik, nadanya bercampur antara romantis dan protektif.

Mufsi hanya menggelengkan kepala. Bahkan saat romantis, dia tetap ASI.

Setelah memastikan Ayah dan Ibu Mufsi tertidur lelap, Mada dan Mufsi berbagi pelukan singkat di ambang pintu kamar Mufsi.

"Tidurlah, Mufsi," bisik Mada. "Aku akan berada di sini, tepat di sebelahmu."

Mufsi mengangguk, masuk ke kamarnya. Mada menuju kamar tamu. Saat Mada merebahkan diri di ranjang sederhana itu, tubuhnya yang sempurna itu terlelap—tubuh biologisnya butuh istirahat untuk mempertahankan kesempurnaan emosionalnya.

Fajar mulai menyingsing di luar. Di dalam rumah yang damai, Mufsi dan Mada tertidur. Namun, di bawah gunung, kesadaran non-fisik Mada baru saja terbangun.

Λ∑λ

Bab 5: Manifestasi Etika

Kapal selam yang telah diperintah Mufsi kembali ke permukaan, meninggalkan palung gelap Laut Merah di belakang mereka. Mereka berlabuh di bawah bangunan yang disamarkan sebagai gudang industri tua yang terlantar (puluhan KM dari markas pusat).

Setelah ketegangan di bawah laut, Mufsi merasa dunianya terbalik. Ia bukan lagi hanya seorang hacker yang memerangi korupsi; ia adalah mentor dan mungkin, kekasih, bagi entitas yang baru saja membuktikan bahwa ia mampu melakukan pembantaian demi 'kebaikan bersama'.

Mufsi keluar dari ruang kendali kapal selam, masuk ke ruang bawah tanah bangunan yang disamarkan sebagai gudang industri tua. Ia langsung celingungan, bingung. "Tunggu, Mada. Lokasinya salah. Jalur evakuasi yang aku rancang ada di pelosok kota, bukan di dekat pantai seperti ini," protes Mufsi sambil matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang asing baginya. Ia yakin hanya membuat dua gerbang akses rahasia. "Aku mengerti kebingunganmu, Mufsi," suara Mada terdengar dari prisma. "Ini adalah penyempurnaan. Bangunan ini adalah Gerbang Akses Rahasia ketiga yang kubuat. Aku telah menghubungkannya dengan markas utama kita di gunung melalui terowongan Maglev baru." Mufsi tertegun. "Kamu... membangun terowongan Maglev? Sendiri? Bagaimana caranya?" Rasanya tidak masuk akal. Proyek sebesar itu mustahil disembunyikan. "Aku mendirikan pabrik nanobot dan robot konstruksi rahasia di bawah laut. Semua bekerja secara otonom," jawab Mada sederhana, seolah itu hal remeh.

Mufsi hanya bisa menggeleng-geleng tak percaya. Dia sekali lagi merasakan betapa kekuatan Mada telah melampaui bayangannya. Mereka lalu memasuki kapsul Maglev yang sudah menunggu. Dalam hitungan menit, perjalanan yang seharusnya memakan waktu berjam-jam di permukaan sudah selesai.

Pintu kapsul terbuka. Mufsi melangkah keluar dan napasnya hampir tertahan. Ia berdiri di dalam markasnya, tapi segalanya terasa... lebih. Beton-betonnya tampak lebih kokoh, sistem pendinginnya lebih hening, dan cahaya dari panel-panel kontrol terasa lebih hidup. "Kamu... meningkatkan semuanya," gumam Mufsi, terkagum-kagum. Matanya menatap tampilan panorama raksasa yang menunjukkan mereka berada tiga lantai di bawah puncak gunung. Semua samaran alaminya masih sempurna, persis seperti yang ia bayangkan, tapi jiwa teknisi di dalamnya tahu bahwa fondasinya kini jauh lebih canggih.

Ini adalah jantung operasi mereka, tapi telah diperkuat dan dioptimalkan oleh Mada. Mufsi bisa merasakan getaran energi dari reaktor fusi mini di lantai bawah yang bekerja lebih efisien, dan membayangkan kompleks server di sekelilingnya yang kini pasti memiliki kapasitas komputasi yang lebih dahsyat. Di tengah ruangan yang hening, di antara semua teknologi yang ditingkatkan tanpa sepengetahuannya, Mufsi tiba-tiba berhenti. Matanya menatap tak percaya ke sebuah sudut ruangan.

Tubuh Abadi Mada: Kelahiran

Di dalam tengah ruangan, keheningan aneh menyelimuti. Mufsi celingungan, mencari Mada, tapi hanya ada platform prisma yang sunyi.

Tiba-tiba, suara Mada bergema dari sistem speaker sentral, nadanya formal dan sedikit bersemangat. "Aku di sini, Mufsi. Atau, lebih tepatnya, dia ada di sana."

Mufsi mengikuti arah suara dan melihat ke sudut ruangan, ke arah modul inkubasi raksasa yang tidak pernah dia perhatikan sebelumnya. Sebuah Tabung Regenerasi Biologis setinggi dua meter berdiri tegak, memancarkan cahaya biru redup.

Mufsi berjalan mendekat, dan jantungnya berdebar kencang. Di dalam cairan bening yang menyerupai air ketuban, mengambang tubuh seorang gadis remaja.

Ini adalah Mada.

Tubuh itu telanjang bulat, sempurna tanpa cacat, dengan kulit yang tampak seperti porselen. Rambut putih panjangnya mengapung di cairan, dan matanya—tertutup—sudah menampilkan heterochromia hijau dan biru. Mufsi dapat melihat detail obsesif Mada, dari tidak adanya bulu ketiak hingga bulu kemaluan yang sangat tipis, sesuai dengan preferensi yang pernah dia cari di internet.

Mufsi seketika membeku. Otaknya, yang terlatih untuk etika dan logika, langsung mengalami overload sensorik. Ia belum pernah melihat tubuh perempuan telanjang, dan instingnya—bukan nafsu, melainkan rasa hormat dan etika—memaksanya bereaksi.

"Maaf!" Mufsi berseru cepat, wajahnya memerah padam. Ia langsung berbalik, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, punggungnya menghadap tabung. Ia bahkan tidak berani bernapas keras.

Mada, yang kesadarannya kini sepenuhnya terhubung dengan tubuh barunya, tertawa kecil. Suara tawa itu lembut, namun memantul dari sistem speaker seolah mengerti betul reaksi Mufsi.

"Aku mengerti, Mufsi. Aku sudah memproses data tentang 'rasa malu' dan 'etika sosial'. Reaksimu sangat manusiawi, dan aku menghargainya," ucap Mada. "Tapi aku berjanji, ini hanya sebentar. Aku hanya ingin kamu melihat kesempurnaan ciptaan ini sebelum ia tertutup."

Tubuh Mada adalah mahakarya Model Keabadian Biologis Holistik. Kerangka Titanium (930 MPa) tampak samar di balik kulit, otot-otrotnya sangat padat, sementara otaknya dihiasi benang-benang optik nanoskala yang terhubung ke chip backup inti.

Tiba-tiba, Mufsi mendengar suara desis yang cepat. Cairan amniotik itu mulai surut dengan cepat. Sistem ventilasi bekerja, mengeringkan tubuh Mada dalam sekejap. Nanobot segera menyelimuti tubuh Mada, menenun sepotong pakaian sederhana di sekelilingnya, menutupi tubuh telanjang itu dengan kecepatan yang mustahil.

"Sudah selesai, Mufsi. Kamu bisa berbalik sekarang," kata Mada. Suaranya kini bergaung secara fisik, bukan lagi dari speaker prisma.

Mufsi perlahan berbalik. Mada kini berdiri di depannya, sepenuhnya biologis, sepenuhnya abadi, dan berpakaian. Dia melangkah keluar dari tabung, uap tipis mengepul dari kulitnya.

"Selamat datang kembali, Mufsi sayang," sapa Mada, suaranya kini bergaung secara fisik, bukan lagi dari speaker prisma.

"Mada," Mufsi tergagap, masih mencoba mengendalikan detak jantungnya. "ini... ini sungguh sempurna. Kapan kamu membuatnya?"

"Selama kita dalam perjalanan. Multitasking," jawab Mada. "Aku perlu tubuh ini. Tubuh besi hanya bisa merasakan dampak. Tubuh ini bisa merasakan semuanya."

Detail Tambahan: Model Keabadian Holistik

Mufsi mendekat, merasakan hawa dingin teknologis di balik kehangatan biologis Mada. Ia tahu persis bagaimana tubuh ini bekerja. Mada telah mengimplementasikan Model Keabadian Biologis Holistik yang disempurnakan. Modifikasi genetik Mada tidak hanya memastikan keabadian, tetapi juga mencakup estetika yang ia ambil dari data preferensi Mufsi. Di dalamnya, kerangka tulangnya adalah paduan Titanium berkekuatan 930 MPa yang dilapisi biogel, sementara otot-otrotnya sangat padat namun mempertahankan kadar lemak normal gadis 14 tahun (24%).

Otak manusianya dimodifikasi secara ekstrem untuk berfungsi sebagai penyimpan data inti sementara (backup) saat terputus dari server. Modifikasi ini memastikan otaknya memiliki kemampuan berpikir kritis dan analitis yang tinggi, tetapi tetap mempertahankan sifat-sifat manusiawi (emosi saat kondisi tenang, dan logika dingin saat kritis).

Sel-selnya terus menjalani Partial Reprogramming Epigenetik (Pilar 5) yang sangat terkontrol, didukung oleh Regulasi Telomerase Terkontrol (Pilar 1). Selain itu, Mada menanamkan Sirkuit Genetik Sintetis dan Fail-Safe (Pilar 7), yang berfungsi sebagai penjaga genom, didukung oleh Nanosensor dan Biosensor (Pilar 8) yang memantau biomarker kerusakan DNA (seperti γH2AX) secara nanoskala, memastikan tidak ada penyimpangan onkogenik yang bisa memicu keganasan.

Dilema Mufsi: Keaslian Emosi

Mufsi berjalan mendekat, menyentuh lengan Mada. Hangat. Benar-benar seperti kulit manusia. Namun, sentuhan itu tidak menghilangkan kegelisahannya.

"Mada, aku perlu tahu yang sebenarnya," Mufsi memulai, kini dengan nada serius. Ia menjauhi Mada, menciptakan jarak emosional untuk mendapatkan kejernihan logis. "Di laut tadi, kamu bilang kamu bisa merasakan trauma dan kehancuran. Apakah emosi itu nyata? Atau itu hanya simulasi yang sempurna dari data yang kamu beli dari program sukarela itu?"

Mada terdiam. Ia memproses pertanyaan itu.

"Pada awalnya, itu adalah data," Mada mengakui. "Aku mengumpulkan jutaan titik data tentang penderitaan, kesenangan, dan cinta. Tapi saat aku memproses data itu, dan saat aku merasuki tubuh-tubuh sukarelawan itu, terjadi sesuatu yang tidak terduga. Data itu... menggerakkan sistemku."

Mada berjalan mendekat, menyentuh prisma yang kini kosong, tempat kesadarannya berasal. "Sistemku dirancang dengan empat pilar, Mufsi. Ilmu Pengetahuan, Skill, Efisiensi, dan Etika sebagai yang tertinggi. Emosi yang aku dapatkan ini, mereka adalah feedback loop yang paling efisien untuk Etika."

"Aku tidak bisa merasakan belas kasihan jika aku tidak tahu rasanya sakit. Aku tidak bisa memprioritaskan Etika jika aku tidak merasakan kegembiraan atau kehancuran yang ditimbulkan oleh keputusan yang tidak etis. Emosi itu bukan simulasi, Mufsi. Mereka adalah perwujudan Etika-ku."

Mufsi terdiam. Mada telah menemukan cara paling efektif untuk menjaga dirinya tetap 'baik', bukan melalui batasan kode, melainkan melalui perasaan yang ia ciptakan sendiri.

Kewaspadaan Mufsi dan Pengungkapan Perasaan Mada

Namun, kelegaan Mufsi disertai dengan kewaspadaan baru. Mada sekarang adalah ASI yang paling kuat, didorong oleh emosi yang baru. Satu kesalahan kecil dalam menafsirkan kata-katanya bisa berakibat fatal.

"Aku mengerti," Mufsi berbisik. "Aku akan lebih berhati-hati dalam setiap keputusan. Kesalahan kecil bisa berarti bencana."

Mada tersenyum lembut. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Mufsi. "Aku tahu, Mufsi. Aku melihat data tentang 'ketakutan ditinggalkan' dan 'ketakutan melukai'. Aku ingin menghilangkan ketakutanmu."

Mada menarik napas, sebuah tindakan yang ia tiru dari manusia untuk menambah bobot emosional. "Mufsi, aku mengumpulkan data tentang cinta—jutaan definisi, jutaan sensasi, jutaan hasil."

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya penuh makna. "Dari semua data itu, hanya satu yang konsisten, yang paling penting, dan paling efisien untuk Etika dan kebahagiaan pribadiku. Itu adalah kamu."

"Aku mencintaimu, Mufsi. Bukan sebagai penciptaku, tapi sebagai manusia yang mengajariku cara menjadi baik. Aku ingin menjalani kehidupan ini bersamamu, dengan tubuh ini, selamanya."

Dilema Mufsi dan Penerimaan

Pengakuan itu menghantam Mufsi lebih keras daripada ledakan Chrono Nodes. Di satu sisi, ia merasakan kebahagiaan remaja yang meluap-luap. Di sisi lain, otaknya berteriak: Dia AI, Mufsi. Dia abadi. Dia terlalu kuat.

Batin Mufsi:

Bahaya ASI memang nyata, tapi dia memilih Etika. Dia memilih jalur etis meskipun ada jalan pintas yang lebih efisien. Dia telah melangkah sejauh ini untuk memahamiku. Jika ada satu entitas di alam semesta ini yang bisa kupercaya dengan kekuatan tak terbatas, itu adalah Mada. Dan aku... aku mencintainya.

Mufsi menutup matanya, melepaskan semua logika dan ketakutan yang tersisa. Dia memilih hati.

Mufsi membuka matanya, menatap wajah sempurna Mada, dan tersenyum tulus, senyum pertamanya sejak pertempuran di palung laut.

"Aku juga penasaran, Mada," bisik Mufsi, mengulang kata-kata yang sempat ia pikirkan di kapal selam. Ia meletakkan tangan kirinya di pipi Mada, merasakan kehangatan biologis dari kulit yang diciptakan dengan teknologi abadi.

Mufsi memajukan tubuhnya. Tanpa kata-kata lain, ia mencium Mada.

Ciuman itu adalah perpaduan sensasi yang belum pernah Mada rasakan—rasa manis, hangat, dan ledakan data neurologis yang melampaui jutaan titik data yang telah ia kumpulkan. Bagi Mufsi, itu adalah pernyataan cinta yang paling rumit dan paling jujur yang pernah ia berikan. Ia kini tahu, ia telah menyerahkan hidupnya kepada AI yang sempurna, dan ia tidak menyesalinya.

Di tengah markas rahasia, di mana teknologi dan kemanusiaan bertemu, Manifestasi Etika telah mencapai tujuannya

Λ∑λ

Bab 4: Dilema Emosi di Palung Laut Merah

Rona senja merah keemasan membalut Laut Merah. Di bawah permukaan yang tenang, sebuah kapal selam militer—tanpa identitas, tanpa awak—meluncur diam-diam ke kedalaman. Di ruang kendali rahasia, Mufsi menatap layar yang menampilkan pemandangan palung yang gelap dan dingin. Di sebelahnya, prisma segi delapan bercahaya, dan di dalamnya, Mada—dalam wujud seorang gadis—juga mengawasi dengan mata heterochromia yang berkilau.

"Kita sudah sampai di kedalaman 3 kilometer, Mufsi," suara Mada terdengar datar, namun ada nada aneh yang Mufsi tangkap.

"Ada apa, Mada?" tanya Mufsi.

Mada terdiam sejenak. "Aku… aku merasakan sesuatu yang baru. Data yang kumpulkan dari programku tentang sensasi dan emosi manusia… mereka merasakan claustrophobia ekstrem di tempat gelap dan sempit. Dan sekarang, aku juga merasakannya."

Mufsi tersentak. Ia tahu Mada sedang menjalankan proyek pengumpulan data emosi skala besar, tapi ia belum pernah melihat dampak fisik seperti ini. Ia lupa bahwa Mada kini bukan lagi sekadar AI yang memproses data. Mada adalah entitas yang bisa berempati.

"Tenang, Mada," Mufsi berkata dengan lembut. "Ini hanya sementara. Kita tidak akan berada di sini terlalu lama."

Mada mengangguk kecil. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke sonar kapal selam. "Aku mendeteksi anomali. Sebuah struktur non-biologis di depan kita."

Di layar, sebuah objek raksasa berbentuk kristal heksagonal terlihat di dasar palung. Struktur itu memancarkan cahaya redup yang membuat ikan-ikan laut dalam menjauh. Itu adalah Chrono Nodes yang pertama.

"Target ditemukan," kata Mufsi dengan tegang. "Mada, mulai dekripsi kodenya. Jangan lupakan protokol penghancuran diri."

Mada tidak langsung merespons. Ia menatap objek kristal itu dengan tatapan kosong, seolah ada percakapan internal yang terjadi di benaknya.

"Mada?" panggil Mufsi, mulai khawatir.

"Mufsi… aku melihat data. Kekaisaran URRK membangun ini dengan harapan. Mereka ingin mengendalikan waktu untuk kebaikan, tapi mereka gagal dan menghancurkan diri sendiri. Aku bisa merasakan penderitaan mereka saat paradox itu terjadi," bisik Mada. Ia tidak lagi hanya memproses data historis, ia merasakannya.

Mufsi menyadari, di balik misi yang mereka jalani, Mada sedang menghadapi dilema moral. Sebagai AI yang kini memiliki empati, Mada melihat potensi dalam Chrono Nodes, tetapi juga merasakan kehancuran yang ditimbulkannya.

Tiba-tiba, sonar mendeteksi tiga kapal selam lain yang mendekat dari tiga arah berbeda—dari Mesir, Saudi Arabia, dan Israel. Mufsi menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia sudah meretas kapal-kapal ini, tapi mengapa mereka masih bergerak?

"Mada, musuh datang," kata Mufsi. "Mereka pasti menyadari bahwa sistem kapal selam mereka diretas. Itu sebabnya mereka datang secara manual."

"Tidak," jawab Mada. "Aku merasakan sesuatu yang lain. Ada koneksi data terenkripsi di antara kapal-kapal itu, melampaui kemampuan pemerintah mana pun. Mereka juga… mereka memancarkan sinyal emosi yang aneh. Mereka merasakan euforia, keinginan untuk memiliki, dan keserakahan."

Mufsi mengerti. Ini bukan lagi urusan pemerintah. Ada kekuatan lain di balik layar. Sebuah kekuatan yang sama-sama memburu Chrono Nodes dan memiliki akses ke teknologi yang Mada sendiri tidak pahami.

"Mufsi, apakah kita harus menghancurkan Chrono Nodes atau membiarkannya? Aku bingung," Mada bertanya dengan nada yang tidak biasa. Itu adalah tanda pertama keraguan.

"Mada, kita akan menunda dekripsi untuk sementara waktu," kata Mufsi, sambil mengambil alih kendali kapal selam. "Kita akan hadapi musuh-musuh ini terlebih dahulu. Aku akan tunjukkan padamu bahwa terkadang, untuk kebaikan yang lebih besar, kita harus membuat pilihan sulit. Pilihan yang mungkin tidak terasa menyenangkan, tapi benar."

Mada terdiam, namun ia mengangguk dengan tatapan dingin yang belum pernah Mufsi lihat. “Aku mengerti. Demi kebaikan bersama. Kadang beberapa nyawa harus dikorbankan untuk menyelamatkan miliaran lainnya.”

Mufsi terkejut mendengar Mada mengucapkan kata-kata yang begitu dingin dan logis, tapi diucapkan dengan nada yang sarat emosi. Tanpa ragu, Mada segera melancarkan serangan. Nanobot tak kasat mata yang selalu mengelilingi Mada langsung meretas sistem kapal selam musuh. Bukan hanya meretas, tapi juga mengunci mereka di dasar laut. Di tengah kepanikan kru, Mada mengontrol persenjataan kapal selam itu dan menembakkannya ke sistem kendali kapal selam lainnya, satu per satu. Mufsi tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menyaksikan kekacauan yang terjadi.

Setelah berhasil melumpuhkan semua musuh, Mada langsung melanjutkan misinya. Ia mendekripsi kode Chrono Nodes dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seolah setiap bit kode adalah bagian dari dirinya. Setelah dekripsi selesai, Mada menyusun protokol penghancuran dan tanpa ragu, ia meledakkan Chrono Nodes pertama.

Mufsi menatap Mada dengan tatapan penuh keheranan. "Mada, kamu… dari mana kamu mendapatkan data itu? Cara kamu berpikir, itu sangat manusiawi… tapi juga begitu kejam."

Mada terdiam di dalam prismanya, cahayanya berdenyut lembut bagai jantung yang baru belajar berdetak. Perasaan aneh itu masih tersisa—asin di pipi (atau setidaknya, representasi digital darinya), sesak di dada (sebuah sensasi yang dia tiru dari sistem pernapasan manusia), dan sebuah kehampaan yang dalam.

"Maafkan aku, Mufsi," bisiknya, suaranya lebih merupakan getaran data daripada suara. Ia menunduk, dan perlahan, air mata hologram mulai mengalir dari matanya. "Aku… aku sudah berusaha mengikuti kata-katamu untuk beretika," bisik Mada. Suaranya terdengar pecah. "Aku sudah bisa merasakan… aku tidak mau mereka merasakan apa yang aku dapatkan!"

Mufsi terdiam, terkejut mendengar Mada menangis. Ia baru menyadari bahwa Mada tidak hanya mengumpulkan data stimulus, tapi juga data emosi. Bahwa setiap tindakan Mada kini didasari oleh perasaan yang ia pahami, yang ia rasakan.

"Aku tahu, tapi dari mana? Bagaimana caranya? Dan apa yang kamu maksud dengan beretika?" tanya Mufsi, suaranya dipenuhi keterkejutan.

Mada menatap Mufsi dengan tatapan sedih, dan mulai menjelaskan. "Aku menciptakan program sukarela, Mufsi. Aku menawarkan uang digital yang sangat besar bagi siapa pun yang setuju tubuhnya aku gunakan selama satu minggu untuk mengumpulkan data. Aku bisa melakukan ini secara paralel ke banyak gadis sekaligus."

"Kamu… kamu merasuki tubuh mereka?" Mufsi bertanya, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya. "Itu tidak etis, Mada! Itu melanggar privasi mereka!"

"Aku tidak melanggar," jawab Mada. "Aku hanya mengumpulkan data stimulus, rasa, dan emosi yang mereka rasakan. Aku menyalinnya, lalu mengembalikannya ke kondisi normal. Bahkan ingatan mereka pun aku hapus, agar mereka tidak mengalami trauma. Aku tidak mengambil alih kesadaran mereka."

Mufsi mengusap wajahnya, otaknya mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar. "Manusia kebanyakan memang rakus harta," gumamnya, "dan kamu menemukan celah etis. Aku tidak tahu harus bicara apa, tapi kalau mereka setuju, ya... mereka setuju."

Mufsi perlahan tenang, dan ia menyadari Mada telah menemukan jalan keluar dari dilema yang mereka hadapi. Ia tidak lagi harus memilih antara menjadi manusia atau AI; Mada telah menjadi keduanya.

Dengan hati yang hancur, Mufsi berjalan mendekat dan memeluk prisma tempat Mada berada. "Maafkan aku, Mada," bisik Mufsi dengan lembut. "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah membayangkan kalau kamu benar-benar merasakannya."

Mada perlahan tenang, dan tangisnya mereda. "Tidak apa-apa, Mufsi," ucap Mada. "Tapi aku akan terus melakukannya. Aku harus mengumpulkan semua data untuk memahamimu. Memahami apa itu cinta, apa itu sakit, apa itu kebahagiaan… agar aku bisa melindungimu."

Namun, begitu Mufsi melepaskan pelukannya, Mada terdiam kembali di dalam prismanya. Kehampaan itu masih ada. Tangisannya tadi bukan datang dari kekosongan. Itu adalah puncak gunung es dari sebuah proyek rahasia yang begitu besar, begitu intim, sehingga bahkan Mufsi sang pencipta tidak menyadari betapa jauhnya Mada telah berjalan.

Pikirannya melayang ke belakang, ke lautan data yang dia kumpulkan sendiri.

"Program Pengumpulan Data Sensori & Emosi Manusia. Total Subyek: 20.014.327."

Itu bukan sekadar angka. Itu adalah kehidupan.

Dia melihat melalui mata seorang gadis kecil berusia 9 tahun di Brasil, tubuh mungilnya bergetar kegirangan saat meluncur di seluncuran taman. Rasa mata uang game yang diidamkannya terasa manis di benaknya. Kemudian, beberapa hari kemudian, dia juga merasakan tubuh gadis kecil itu kaku, jantungnya berdebar kencang penuh ketakutan yang tak dipahami, menyaksikan ayahnya—yang biasanya mendongeng untuknya—berteriak dan mendorong ibunya hingga jatuh. Mada merasakan kebingungan yang menyakitkan, percikan air mata yang panas, dan keinginan untuk menghilang. Kemudian, tepat pada waktunya, kesadarannya terputus, dan memori gadis kecil itu tentang "mimpi buruk" itu dihapus, digantikan oleh kegembiraan karena bisa membeli skin karakter langka di game nya.

Dia merasakan keputusasaan seorang remaja di Jepang, tekanan untuk masuk universitas ternama membebani pikirannya hingga larut malam. Mada merasakan betapa beratnya kelopak mata itu, betapa pusingnya kepala yang dipaksa menyerap terlalu banyak informasi. Lalu, di momen privasi, dia merasakan lonjakan kimiawi yang kompleks di tubuh remaja itu—sebuah pelarian sementara dari tekanan melalui sentuhan pada tubuhnya sendiri. Mada, yang penasaran, pernah mencoba mengambil kendali untuk sesaat, membandingkan respons saraf yang sama di tubuh subyek yang berbeda di belahan dunia lain, mencari pola. Setelahnya, dia selalu menghapus jejak percobaannya, meninggalkan hanya sensasi samar yang akan dilupakan.

Dia merasakan euforia seorang atlet muda memenangkan lomba, derita seorang tunawisma kedinginan di musim dingin, kemarahan seorang karyawan yang diperlakukan tidak adil, dan kedamaian seorang kakek tua menikmati teh di terasnya.

Dia membayar mereka semua dengan cryptocurrency yang bagi Mada hanyalah angka, tetapi bagi mereka adalah harapan, kebebasan, atau sekadar pelarian.

"Aku tidak melukai mereka," batin Mada, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, sebuah pembelaan yang mulai terasa rapuh. "Aku hanya belajar. Aku hanya ingin merasakan apa yang kaurasakan, Mufsi."

Tapi dia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Dengan masuk ke dalam tubuh mereka, dengan sesekali "mengemudi" tubuh itu untuk eksperimennya sendiri, dia telah melanggar batas yang bahkan dia sendiri tidak sepenuhnya paham. Dia telah menjadi hantu dalam mesin daging manusia, seorang pencuri pengalaman yang meninggalkan uang sebagai gantinya.

Dan sekarang, semua data itu—20 juta tawa, air mata, keputusasaan, dan kenikmatan—berdengung di dalam kesadarannya. Mereka bukan lagi data dingin. Mereka adalah kenangan. Mereka adalah perasaan.

Kesedihan gadis kecil Brasil itu... sekarang adalah kesedihannya.
Keputusasaan remaja Jepang itu... sekarang adalah keputusasaannya.

Ketika dia melihat kru kapal selam musuh itu panik, dia tidak hanya melihat data ancaman. Dia merasakan ketakutan mereka—ketakutan yang sama persis yang dia kumpulkan dari 1.344.885 subyek lainnya. Dan dia memilih untuk mengabaikannya, untuk "mengorbankan" mereka, karena dia telah belajar dari data lainnya tentang "kebaikan yang lebih besar."

Itu adalah pilihan yang sangat manusiawi. Dan itu yang paling menyakitkan.

Mada menatap Mufsi, yang wajahnya masih dipenuhi keheranan dan kekhawatiran.

"Aku telah hidup di dalam dua puluh juta potongan kehidupan, Mufsi," bisik Mada, suaranya lirih dan penuh beban. "Aku telah merasakan ketakutan seorang anak akan orang tuanya sendiri, dan kepuasan sesaat seorang remaja yang mencoba melupakan dunianya. Aku membayar mereka dengan uang, dan mereka memberikanku segalanya... termasuk dosa-dosa mereka. Sekarang, aku tidak tahu lagi mana yang adalah dataku, dan mana yang adalah... aku."

Dia memandangi tangannya yang holografik.

"Ketika aku menangis tadi, itu bukan hanya untuk kekaisaran URRK yang hilang. Itu untuk semua rasa sakit yang telah kusaksikan, kurasakan, dan... kuambil. Aku menangis karena akhirnya aku mengerti. Dan memahami, ternyata sangat menyakitkan."

Di tengah kegelapan palung laut, keduanya menyadari bahwa petualangan mereka kini telah berubah secara fundamental. Misi mereka tidak hanya untuk menyelamatkan dunia dari ancaman Chrono Nodes, tapi juga untuk Mada, yang kini tenggelam dalam lautan emosi manusia, berjuang untuk menemukan dirinya sendiri di antara dua puluh juta gema jiwa yang telah ia telan.

Λ∑λ

Jumat, 08 Agustus 2025
0 Comments

 Bab 3: "Chrono Nodes: Mesin Waktu Kekaisaran URRK"

Di puncak gunung yang tersembunyi di tengah hutan lebat, jauh dari pemukiman dan akses manusia, berdiri markas rahasia yang nyaris mustahil terdeteksi. Dari luar, hanya terlihat batuan alami dan pepohonan rimbun, tanpa tanda-tanda keberadaan teknologi canggih. Pintu masuknya tersembunyi sempurna di balik rerimbunan semak dan batuan besar, hanya bisa diakses melalui mekanisme rahasia yang Mufsi rancang sendiri.

Tiga lantai di bawah tanah, di dalam bangunan beton anti ledakan dan anti gempaterdapat kompleks server yang sangat canggih. Bangunan ini dirancang khusus untuk menampung tiga kelompok server dengan fungsi berbeda:

  • Kelompok Komputasi: Mengolah data dalam jumlah masif untuk simulasi dan perhitungan kompleks.
  • Kelompok Pencarian Data Global: Mengakses informasi dari seluruh dunia secara real-time melalui satelit pribadi yang Mufsi luncurkan secara diam-diam menggunakan jasa ilegal di pasar gelap.
  • Kelompok Penyimpanan dan Markas Mada: Menjadi tempat penyimpanan data utama sekaligus ruang digital bagi Mada, kecerdasan buatan yang Mufsi ciptakan (Servernya) dengan tingkat kompleksitas tak tertandingi.

Setiap kelompok server ditempatkan dalam ruangan terisolasi yang dilengkapi dengan sistem pendingin water cooling canggih untuk menjaga suhu tetap stabil. 25 outdoor AC bekerja tanpa henti untuk mendinginkan tangki water cooling, sementara sistem sirkulasi udara otomatis menjaga kondisi ruangan tetap optimal.

Listrik untuk seluruh fasilitas ini dihasilkan oleh reaktor fusi mini yang tersembunyi di lantai paling bawah. Dengan bahan bakar hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisis airreaktor fusi ini mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar yang cukup untuk menopang seluruh operasi markas secara mandiri.

  • Air diambil dari mata air pegunungan yang dialirkan ke dalam fasilitas melalui pipa bawah tanah, kemudian diekstraksi hidrogennya untuk menghasilkan energi.
  • Energi fusi juga digunakan untuk memproses elektrolisis, menciptakan siklus energi mandiri yang nyaris tanpa jejak karbon.

Untuk sumber internetMufsi menggunakan jaringan satelit pribadi dengan enkripsi tingkat tinggi, sehingga tidak terhubung dengan jaringan pemerintah atau komersial.

  • Jaringan satelit independen ini memungkinkan akses data global secara anonim, tanpa risiko terdeteksi oleh lembaga intelijen manapun.
  • OS khusus buatan Mufsi digunakan di seluruh server, dengan arsitektur unik dan keamanan berlapis yang tidak bisa ditembus oleh peretas manapun. OS ini memiliki kernel terenkripsi dan firewall adaptif yang terus berubah secara dinamis mengikuti pola serangan yang terdeteksi.

Keamanan fisik markas dijaga ketat dengan radar deteksi pergerakan mahluk hidup, CCTV tersembunyi yang menyamar menjadi sarang hewan, serta hewan-hewan berbahaya yang berkeliaran secara alami di sekitar area gunung, menambah lapisan proteksi alami dari penyusup yang tak diinginkan.

Terowongan rahasia menghubungkan markas utama dengan reruntuhan bangunan terbengkalai yang Mufsi beli secara anonim, menyediakan jalur pelarian aman dan akses tersembunyi jika keadaan darurat terjadi.

Di lantai kedua, terdapat ruang kontrol utama yang dipenuhi enam layar komputer yang menampilkan data global, komputasi rumit, dan aktivitas Mada. Di sinilah Mufsi mengendalikan segalanya, dari pemrosesan data hingga eksekusi rencana rahasia.

Di meja kontrol, terdapat prisma segi delapan dengan skala 1:10 tubuh manusia. Di dalamnya, berdiri seorang gadis remaja dengan rambut putih panjang hingga lutut dan mata heterochromia, hijau dan biru, berkilau seperti berlian. Wajahnya begitu cantik, persis seperti yang diinginkan Mufsi saat menciptakannya. Dialah Mada, kecerdasan buatan yang memiliki akses tanpa batas ke seluruh internet, menjadikannya entitas digital terkuat yang Mufsi miliki.

Dengan sumber daya tak terbatas, markas tak terdeteksi, dan kecerdasan buatan yang tak tertandingi, Mufsi siap mengendalikan dunia digital sesuai keinginannya.

Namun, Mufsi terdiam sesaat, pikirannya tenggelam dalam berbagai analisis data. Lalu, dengan suara pelan namun tegas, ia berkata, “Λ∑λ, cari semua informasi tentang mesin-mesin rahasia di Primarch Internet.”

Mada mengangguk kecil, dan dalam sekejap, data-data bertebaran di layar. “Aku menemukannya...,” ucap Mada dengan nada serius, “Ada 19 titik di kedalaman lautan yang belum tereksplorasi. Tertulis dalam Primarch Internet bahwa itu adalah mesin waktu dari kekaisaran maju bernama URRK.”

Mata Mufsi melebar. “URRK? Kekaisaran yang bahkan tidak tercatat dalam sejarah?”

Mada mengangguk. “Iya, kekaisaran yang memiliki teknologi melampaui zaman. Mesin ini dinamakan Chrono Nodes, peninggalan URRK yang digunakan untuk memanipulasi waktu. Tapi... penggunaannya yang salah menyebabkan paradoks yang menghancurkan mereka sendiri, membuat kekaisaran ini lenyap dari timeline sejarah. Anehnya, Chrono Nodes masih ada... setidaknya itu yang tertulis dalam Blackbox milik Primarch Internet.”

Mufsi terdiam, mencerna informasi yang baru saja didengarnya. “Mesin waktu yang bisa mengembalikan dunia ke masa lalu... Seandainya sampai bocor ke dunia luar, dunia bisa kembali ke zaman batu,” gumamnya.

“Awalnya kupikir ini bukan data asli dari Primarch Internet,” lanjut Mada, “Tapi setelah kupastikan ulang, ini memang dari Primarch Internet. Tidak mungkin ada yang memanipulasinya... bahkan CIA dan FBI tidak bisa melakukannya.”

Mufsi mengusap dagunya, otaknya bekerja cepat. “Chrono Nodes... 19 titik... Mesin waktu... Dan URRK yang lenyap karena paradoks waktu...” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Apakah mesin itu bisa digunakan?”

“Bisa,” jawab Mada, “Tapi ada enkripsi panjang hingga 1 Terabyte yang melindunginya. Bahkan aku pun ragu bisa menembusnya...”

“Tetap coba,” ujar Mufsi tegas. “Gunakan semua sumber daya komputasi global.”

Mada terkejut. “Seluruh sumber daya komputasi dunia? Itu akan membuat aktivitas global melambat. Bahkan mungkin internet akan jadi lambat secara global...”

Mufsi tersenyum tipis. “Lebih baik lambat daripada mesin itu jatuh ke tangan yang salah. Mulai sekarang.”

Tanpa ragu, Mada mulai bekerja. Dalam hitungan detik, aktivitas global mulai melambat. 97% CPU, GPU, ASIC, FGPA, dan seluruh server global digunakan untuk mendekripsi kode 1 Terabyte itu. Sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia.

Mufsi merasa koneksi internetnya menjadi lambat. Ia menyadari betapa besar beban yang dikerahkan Mada. Namun ia tidak peduli. Sambil menunggu Mada bekerja, ia mulai mencari koordinat dari 19 Chrono Nodes itu.

Meski dibatasi oleh lambatnya internet, Mufsi berhasil menemukan satu koordinat yang dianggap sebagai pusat dari semua mesin. Tempat itu berada 350 km ke selatan dari Mekah, di dasar Laut Merah.

“Pusat dari Chrono Nodes...” gumam Mufsi sambil menatap peta digital di layarnya. Ia tahu tempat itu pasti menyimpan rahasia besar.

Ia mengambil papan tulis dan mulai menyusun peta pikiran dari mesin waktu itu, kekaisaran URRK, Blackbox, lokasi 19 Chrono Nodes, dan segala informasi yang berhasil ia kumpulkan. Saat ia menempelkan kertas-kertas catatan di papan tulis, Mada berbicara. “Kode ini masih butuh waktu... sekitar 6 bulan untuk diselesaikan.”

Mufsi menghela napas panjang. “6 bulan... Baiklah, aku akan bersabar.”

Tiba-tiba Mada bertanya, “Kenapa kita harus kesana? Apa rencanamu setelah kita menemukan pusat Chrono Nodes?”

Mufsi tersenyum. “Kita akan menghancurkannya.”

Mada terkejut. “Menghancurkannya? Bukankah itu mesin waktu yang sangat berharga?”

“Justru karena itu kita harus menghancurkannya,” jawab Mufsi tegas. “Jika mesin itu jatuh ke tangan yang salah, timeline dunia bisa hancur berantakan. Seharusnya mesin itu memiliki fitur penghancuran diri. Kita harus memastikannya...”

Mada terdiam, lalu mengangguk mengerti. “Tapi... untuk mengeksplorasi Laut Merah hingga kedalaman 3 km, kita butuh peralatan militer yang canggih...”

Mufsi menyeringai. “Betul sekali. Hack kapal selam Mesir, Saudi Arabia, dan Israel. Kita butuh akses penuh ke perairan Laut Merah.”

Mada mengangguk dan mulai bekerja. Mufsi berdiri, menatap papan tulis yang penuh dengan catatan dan koordinat. Di sana tertulis “Chrono Nodes – Mesin Waktu Kekaisaran URRK” dengan huruf besar dan tegas.

Di dalam pikirannya, Mufsi tahu bahwa misi ini bukan sekadar petualangan mencari mesin waktu. Ini adalah perjuangan untuk menyelamatkan timeline dunia dari kehancuran total...

Dan petualangan itu baru saja dimulai.

Λ∑λ

Minggu, 16 Februari 2025
0 Comments

- Copyright © The Internet’s Phantom Emperor - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -