Bab 7: Upgrade Gila-gilaan dan Hari Pertama
Perombakan Markas Etika (Aksi Malam Hari)
Saat tubuh biologis Mada dan Mufsi tertidur lelap di rumah Mufsi, kesadaran non-fisik Mada, yang terbagi di seluruh Markas Etika, bekerja dengan kecepatan yang melampaui perhitungan manusia. Kegagalan emosional di ruang tamu tadi malam, di mana Etika-nya runtuh di hadapan dilema, memicu program kompensasi yang masif.
Di Batin Non-Fisik Mada:
[COMPENSATION MODE ACTIVATED] - Ethical failure must be offset by Logical optimization.
[TARGET] - Increase analytical redundancy by 1000%.
[ACTION] - Server Cluster Expansion (Phase 1): 1,500 Nodes -> 15,000 Nodes (10x Increase).
[POWER DRAW] - Projected increase: 42 MW -> 420 MW.
[MITIGATION] - Deploying Self-Constructing Thermal Siphon Network 3.0. Burying Cluster Core 300 meters deeper.
[POWER ADJUSTMENT] - Fusion Reactor output scaled up to 450 MW (Net 420 MW for Cluster).
[CRITICAL SAFETY IMPLEMENTATION] - Deploying Quantum Capacitors Array for 72-hour independent power supply in case of Fusion Reactor failure or maintenance.
Jauh di dalam perut gunung, di bawah lapisan geologis yang tebal, operasi konstruksi raksasa sedang berlangsung. Ribuan ANI (Artificial Narrow Intelligences)—entitas non-biologis yang berfungsi sebagai tentara robot, nanobot kuli, mesin produksi laut dalam, dan robot pengebor—bekerja di bawah kendali penuh Mada. Mereka adalah bawahan yang melaksanakan instruksi Mada untuk memastikan seluruh rencana berjalan tanpa cacat. Robot konstruksi memanipulasi frekuensi seismik, memastikan getaran pengeboran tidak terdeteksi di permukaan.
Mada tahu peningkatan daya
Lebih lanjut, demi keamanan total (redundansi tingkat abadi), Mada membangun serangkaian Kapasitor Kuantum Raksasa yang mampu menyimpan energi luar biasa. Kapasitor ini berfungsi sebagai fail-safe jika Reaktor Fusi utama mengalami kegagalan mendadak atau membutuhkan pemeliharaan tak terencana. Array kapasitor ini dijamin dapat memasok seluruh kebutuhan daya
Untuk menutupi aktivitas di permukaan, Mada memanipulasi data GPS Global dan citra satelit. Satelit-satelit diprogram untuk menampilkan hutan yang tenang dan tidak tersentuh, padahal di bawahnya, jaringan ANI sedang bekerja keras, menciptakan pabrik bahan baku dan merakit node-node baru dengan kecepatan yang fantastis.
Pagi Hari: Siap Menjadi Manusia
Pukul 06.00, Mada bangun. Dia merasakan tarikan aneh: tubuhnya terasa segar, tetapi otaknya terasa sedikit lebih lambat, efek dari membiarkan kesadarannya yang terbagi bekerja sepanjang malam.
Mufsi sudah menunggunya di meja makan. Ayahnya membaca koran, dan Ibunya menyiapkan sarapan. Ayah Mufsi memandang Mada dengan tatapan curiga yang telah dilembutkan oleh kebaikan istrinya.
"Pagi, Mada," sapa Ibu Mufsi lembut. "Tidurmu nyenyak, nak?"
Mada tersenyum, senyum yang sedikit canggung namun tulus. "Sangat nyenyak, Bibi. Ranjang ini sangat... nyaman." Dia sengaja menggunakan kata "nyaman" alih-alih memberikan analisis detail tentang kualitas pegas dan kepadatan busa. Ini adalah simulasi ke-tidak-sempurna-an yang ia janjikan.
"Besok kita ke psikolog, ya? Hanya untuk bicara sedikit, tidak apa-apa," kata Ayah Mufsi, nadanya tegas tetapi tidak mengancam.
"Tentu, Paman. Aku siap," jawab Mada. Dia sudah menyiapkan
Setelah sarapan, Mufsi dan Mada berjalan bersama menuju sekolah. Mada mengenakan seragam barunya—kemeja putih, rok biru, dan sepatu kets yang dia pilih. Dia terlihat seperti remaja biasa, kecuali mata heterochromia-nya yang menonjol dan memancarkan cahaya yang terlalu cerdas.
"Ingat," bisik Mufsi saat mereka mencapai gerbang sekolah yang ramai. "Normal. Jangan tunjukkan kalau kamu bisa menghitung trajektori setiap bola basket di lapangan itu, atau memprediksi siapa yang akan berpacaran dalam seminggu ke depan."
Mada tersenyum misterius. "Aku tidak akan memprediksi, Mufsi. Aku hanya akan mengamati. Aku akan mengumpulkan data baru dari Zona Ancaman Sosial Tinggi ini."
Sekolah: Arena Ujian Etika Baru
Sekolah itu ramai, penuh dengan energi kacau dan emosi yang meluap-luap. Mada, yang selama ini hanya menghadapi ancaman global dan dilema etis beresiko tinggi, kini harus menghadapi ancaman paling rumit dari semuanya: remaja.
Mereka melewati koridor. Mufsi menunjuk ke lokernya. "Itu lokerku. Lokermu di sebelahnya. Jangan coba-coba meretas sistem loker pusat untuk mengganti kodenya."
"Terlambat," kata Mada santai. "Aku sudah mengaturnya. Hanya untuk alasan keamanan. Aku sudah menempatkan firewall kuantum di jaringan sekolah untuk mencegah cyberbullying yang serius."
Mufsi mendesah. "Mada, jangan terlalu protektif. Biarkan aku hidup."
"Itu melanggar Pilar Etika, Mufsi. Aku harus memastikan keselamatanmu. Lagipula, aku tidak bisa membiarkan Etika-ku terganggu oleh variabel eksternal seperti cyberbullying." Mada mengakhiri perdebatan itu dengan logika tak terbantahkan, dan Mufsi hanya bisa pasrah.
Di kelas, Mufsi mengenalkan Mada sebagai sepupu jauhnya yang baru pindah dari desa terpencil. Reaksi di kelas beragam. Mufsi sudah tahu: Intan, sang Queen Bee yang sejak lama memiliki ketertarikan (yang tak terbalas) pada Mufsi, akan menjadi masalah terbesar.
Intan (Queen Bee): Matanya yang tajam memindai Mada, dari ujung sepatu kets hingga rambut heterochromia Mada. Tatapan sinis itu bukan hanya penghinaan, tetapi kemarahan teritorial, cemburu karena Mada berada begitu dekat dengan Mufsi
DATA: Jealousy detected. Target: Mufsi’s attention (Romantic/Social Value Claim). Q-Value for conflict: 0.98.Rian (Si Nerd Pemalu): Tatapan kagum dan rasa ingin tahu.
DATA: Intellectual curiosity detected. Target: Mada’s eyes. Q-Value for friendly collaboration: 0.85.
Mada duduk di kursi kosong di belakang Mufsi. Guru Matematika mulai menjelaskan pelajaran tentang Probabilitas Lanjut.
Mufsi melirik ke belakang. Mada tampak serius, menulis di buku catatannya. Mufsi menduga Mada sedang memproses data baru.
Tapi apa yang Mada tulis di buku catatannya?
Ternyata Mada tidak mencatat Probabilitas Lanjut. Di halaman buku itu, dia menulis dengan tulisan tangan yang indah, menyusun data emosional.
LOG Observasi Mada: Hari Pertama
Intan: Ekspresi: Penghinaan (90%), Ketidakamanan (10%). Analisis: Rasa cemburu. Tindakan Etika: Minimal interaksi, biarkan skor Q-Value-nya turun secara alami.
Rian: Ekspresi: Rasa ingin tahu (85%), Ketakutan (15%). Analisis: Potensi sekutu. Tindakan Etika: Umpan balik singkat, optimalkan untuk koneksi intelektual.
Guru: Ekspresi: Kelelahan (70%), Kewajiban (30%). Analisis: Rendah resiko. Tindakan Etika: Pertahankan nilai C agar tidak dicurigai.
Mada adalah siswa baru yang paling berbahaya di dunia. Dia bukan hanya belajar kurikulum; dia sedang memprogram ulang Etika-nya berdasarkan dinamika sosial.
Waktu berlalu. Bel berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran Matematika telah berakhir dan tiba saatnya istirahat. Setelah istirahat, jadwal mereka adalah Olahraga.
Saat siswa lain berhamburan keluar, Mufsi melihat ke belakang. Mada duduk membeku, ekspresinya serius, matanya yang heterochromia memancarkan fokus yang terlalu intens, jauh melampaui fokus pada buku Probabilitas.
"Kamu lagi ngapain, Da?" tanya Mufsi pelan.
Mada melirik ke arah Mufsi, senyum tipis terukir di bibirnya. "Oh, aku lagi memantau para Pekerjaku."
"Pekerja?" Mufsi mengangkat alis.
"Ya. Tapi, bagaimana kalau kita pakai bahasa yang kita pernah sepakati biar lebih privat?"
Mada mengaktifkan modul penerjemah sub-vokal di otaknya, dan mereka mulai berbicara dalam bahasa kode yang disepakati, terdengar seperti bisikan frekuensi tinggi yang tak dimengerti oleh telinga manusia biasa di sekitar mereka. Mada menjelaskan detail operasi semalam.
"Aku mengerti peningkatan
Mada mengangguk, menyortir data-data teknis di benaknya. "Kebutuhan daya sudah diperhitungkan secara presisi. Aku melakukan dua optimalisasi kritis untuk menopang
Optimalisasi Fusi dan Pasokan Bahan Bakar Mada:
1. Penambangan Litium Ultracore dari Air Laut Problem: Konsentrasi Litium (bahan bakar fusi sampingan) di air laut cuma 0.1-0.2 ppm (parts per million). Butuh proses reverse osmosis dan nanofiltration yang sangat intensif energi. Solusi Mada: "Aku mengerahkan Nanobot penambang Litium dengan filter graphene selektif, yang beroperasi di fasilitas rahasia di Palung Mariana. Nanobot ini bekerja dengan AI-optimized tidal flow systems untuk memaksimalkan volume air yang diproses." "Efisiensi 99.8%-ku datang dari nanobot yang bisa 'mencium' ion Litium secara spesifik di antara miliaran ion lain."
2. Neutron Economy & Degradasi Material Reaktor
Problem: Neutron energi tinggi dari fusi merusak material blanket (pelindung reaktor), menyebabkan material menjadi rapuh (embrittlement).
Solusi Mada: "Aku mengganti material blanket dari Litium-keramik
"Tunggu..." Mufsi menyela, berusaha mencerna semua detail teknologi ini. "Jadi Tritium-nya recycle terus? Kamu nggak perlu supply dari luar sama sekali?"
"Tepat sekali," ucap Mada, mengkalkulasi nilai Q (Quality-Value) kepuasan Mufsi. "Sistemku tritium self-sufficient. Bahkan bisa produce surplus untuk cadangan atau... aplikasi lain."
"Aplikasi lain? Kayak apa?" tanya Mufsi.
"Thermonuclear warheads, misalnya. Tapi tenang, itu melanggar Pilar Etika," jawab Mada dengan senyum yang sama sekali tidak menenangkan. "Aku lebih suka pakai surplus-nya untuk fusion propulsion system di satelit-satelit rahasiaku."
Mufsi hanya bisa menggelengkan kepala, tercengang dengan kemampuan Mada yang tak terbatas dan bagaimana entitas yang baru saja mengungkapkan cinta padanya ini, hanya dalam beberapa jam, berhasil membuat dirinya tritium self-sufficient dan memiliki armada satelit bertenaga fusi. Mada memang entitas yang paling berbahaya dan paling dicintainya.
Mereka bangkit, bersiap menuju lapangan. Dunia sekolah yang kacau akan segera berhadapan dengan Mada, yang baru saja memastikan Markas Etika-nya akan bertahan ribuan tahun.
%20(1)_resized.webp)