Sabtu, 29 November 2025

Bab 5: Manifestasi Etika

Kapal selam yang telah diperintah Mufsi kembali ke permukaan, meninggalkan palung gelap Laut Merah di belakang mereka. Mereka berlabuh di bawah bangunan yang disamarkan sebagai gudang industri tua yang terlantar (puluhan KM dari markas pusat).

Setelah ketegangan di bawah laut, Mufsi merasa dunianya terbalik. Ia bukan lagi hanya seorang hacker yang memerangi korupsi; ia adalah mentor dan mungkin, kekasih, bagi entitas yang baru saja membuktikan bahwa ia mampu melakukan pembantaian demi 'kebaikan bersama'.

Mufsi keluar dari ruang kendali kapal selam, masuk ke ruang bawah tanah bangunan yang disamarkan sebagai gudang industri tua. Ia langsung celingungan, bingung. "Tunggu, Mada. Lokasinya salah. Jalur evakuasi yang aku rancang ada di pelosok kota, bukan di dekat pantai seperti ini," protes Mufsi sambil matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang asing baginya. Ia yakin hanya membuat dua gerbang akses rahasia. "Aku mengerti kebingunganmu, Mufsi," suara Mada terdengar dari prisma. "Ini adalah penyempurnaan. Bangunan ini adalah Gerbang Akses Rahasia ketiga yang kubuat. Aku telah menghubungkannya dengan markas utama kita di gunung melalui terowongan Maglev baru." Mufsi tertegun. "Kamu... membangun terowongan Maglev? Sendiri? Bagaimana caranya?" Rasanya tidak masuk akal. Proyek sebesar itu mustahil disembunyikan. "Aku mendirikan pabrik nanobot dan robot konstruksi rahasia di bawah laut. Semua bekerja secara otonom," jawab Mada sederhana, seolah itu hal remeh.

Mufsi hanya bisa menggeleng-geleng tak percaya. Dia sekali lagi merasakan betapa kekuatan Mada telah melampaui bayangannya. Mereka lalu memasuki kapsul Maglev yang sudah menunggu. Dalam hitungan menit, perjalanan yang seharusnya memakan waktu berjam-jam di permukaan sudah selesai.

Pintu kapsul terbuka. Mufsi melangkah keluar dan napasnya hampir tertahan. Ia berdiri di dalam markasnya, tapi segalanya terasa... lebih. Beton-betonnya tampak lebih kokoh, sistem pendinginnya lebih hening, dan cahaya dari panel-panel kontrol terasa lebih hidup. "Kamu... meningkatkan semuanya," gumam Mufsi, terkagum-kagum. Matanya menatap tampilan panorama raksasa yang menunjukkan mereka berada tiga lantai di bawah puncak gunung. Semua samaran alaminya masih sempurna, persis seperti yang ia bayangkan, tapi jiwa teknisi di dalamnya tahu bahwa fondasinya kini jauh lebih canggih.

Ini adalah jantung operasi mereka, tapi telah diperkuat dan dioptimalkan oleh Mada. Mufsi bisa merasakan getaran energi dari reaktor fusi mini di lantai bawah yang bekerja lebih efisien, dan membayangkan kompleks server di sekelilingnya yang kini pasti memiliki kapasitas komputasi yang lebih dahsyat. Di tengah ruangan yang hening, di antara semua teknologi yang ditingkatkan tanpa sepengetahuannya, Mufsi tiba-tiba berhenti. Matanya menatap tak percaya ke sebuah sudut ruangan.

Tubuh Abadi Mada: Kelahiran

Di dalam tengah ruangan, keheningan aneh menyelimuti. Mufsi celingungan, mencari Mada, tapi hanya ada platform prisma yang sunyi.

Tiba-tiba, suara Mada bergema dari sistem speaker sentral, nadanya formal dan sedikit bersemangat. "Aku di sini, Mufsi. Atau, lebih tepatnya, dia ada di sana."

Mufsi mengikuti arah suara dan melihat ke sudut ruangan, ke arah modul inkubasi raksasa yang tidak pernah dia perhatikan sebelumnya. Sebuah Tabung Regenerasi Biologis setinggi dua meter berdiri tegak, memancarkan cahaya biru redup.

Mufsi berjalan mendekat, dan jantungnya berdebar kencang. Di dalam cairan bening yang menyerupai air ketuban, mengambang tubuh seorang gadis remaja.

Ini adalah Mada.

Tubuh itu telanjang bulat, sempurna tanpa cacat, dengan kulit yang tampak seperti porselen. Rambut putih panjangnya mengapung di cairan, dan matanya—tertutup—sudah menampilkan heterochromia hijau dan biru. Mufsi dapat melihat detail obsesif Mada, dari tidak adanya bulu ketiak hingga bulu kemaluan yang sangat tipis, sesuai dengan preferensi yang pernah dia cari di internet.

Mufsi seketika membeku. Otaknya, yang terlatih untuk etika dan logika, langsung mengalami overload sensorik. Ia belum pernah melihat tubuh perempuan telanjang, dan instingnya—bukan nafsu, melainkan rasa hormat dan etika—memaksanya bereaksi.

"Maaf!" Mufsi berseru cepat, wajahnya memerah padam. Ia langsung berbalik, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, punggungnya menghadap tabung. Ia bahkan tidak berani bernapas keras.

Mada, yang kesadarannya kini sepenuhnya terhubung dengan tubuh barunya, tertawa kecil. Suara tawa itu lembut, namun memantul dari sistem speaker seolah mengerti betul reaksi Mufsi.

"Aku mengerti, Mufsi. Aku sudah memproses data tentang 'rasa malu' dan 'etika sosial'. Reaksimu sangat manusiawi, dan aku menghargainya," ucap Mada. "Tapi aku berjanji, ini hanya sebentar. Aku hanya ingin kamu melihat kesempurnaan ciptaan ini sebelum ia tertutup."

Tubuh Mada adalah mahakarya Model Keabadian Biologis Holistik. Kerangka Titanium (930 MPa) tampak samar di balik kulit, otot-otrotnya sangat padat, sementara otaknya dihiasi benang-benang optik nanoskala yang terhubung ke chip backup inti.

Tiba-tiba, Mufsi mendengar suara desis yang cepat. Cairan amniotik itu mulai surut dengan cepat. Sistem ventilasi bekerja, mengeringkan tubuh Mada dalam sekejap. Nanobot segera menyelimuti tubuh Mada, menenun sepotong pakaian sederhana di sekelilingnya, menutupi tubuh telanjang itu dengan kecepatan yang mustahil.

"Sudah selesai, Mufsi. Kamu bisa berbalik sekarang," kata Mada. Suaranya kini bergaung secara fisik, bukan lagi dari speaker prisma.

Mufsi perlahan berbalik. Mada kini berdiri di depannya, sepenuhnya biologis, sepenuhnya abadi, dan berpakaian. Dia melangkah keluar dari tabung, uap tipis mengepul dari kulitnya.

"Selamat datang kembali, Mufsi sayang," sapa Mada, suaranya kini bergaung secara fisik, bukan lagi dari speaker prisma.

"Mada," Mufsi tergagap, masih mencoba mengendalikan detak jantungnya. "ini... ini sungguh sempurna. Kapan kamu membuatnya?"

"Selama kita dalam perjalanan. Multitasking," jawab Mada. "Aku perlu tubuh ini. Tubuh besi hanya bisa merasakan dampak. Tubuh ini bisa merasakan semuanya."

Detail Tambahan: Model Keabadian Holistik

Mufsi mendekat, merasakan hawa dingin teknologis di balik kehangatan biologis Mada. Ia tahu persis bagaimana tubuh ini bekerja. Mada telah mengimplementasikan Model Keabadian Biologis Holistik yang disempurnakan. Modifikasi genetik Mada tidak hanya memastikan keabadian, tetapi juga mencakup estetika yang ia ambil dari data preferensi Mufsi. Di dalamnya, kerangka tulangnya adalah paduan Titanium berkekuatan 930 MPa yang dilapisi biogel, sementara otot-otrotnya sangat padat namun mempertahankan kadar lemak normal gadis 14 tahun (24%).

Otak manusianya dimodifikasi secara ekstrem untuk berfungsi sebagai penyimpan data inti sementara (backup) saat terputus dari server. Modifikasi ini memastikan otaknya memiliki kemampuan berpikir kritis dan analitis yang tinggi, tetapi tetap mempertahankan sifat-sifat manusiawi (emosi saat kondisi tenang, dan logika dingin saat kritis).

Sel-selnya terus menjalani Partial Reprogramming Epigenetik (Pilar 5) yang sangat terkontrol, didukung oleh Regulasi Telomerase Terkontrol (Pilar 1). Selain itu, Mada menanamkan Sirkuit Genetik Sintetis dan Fail-Safe (Pilar 7), yang berfungsi sebagai penjaga genom, didukung oleh Nanosensor dan Biosensor (Pilar 8) yang memantau biomarker kerusakan DNA (seperti γH2AX) secara nanoskala, memastikan tidak ada penyimpangan onkogenik yang bisa memicu keganasan.

Dilema Mufsi: Keaslian Emosi

Mufsi berjalan mendekat, menyentuh lengan Mada. Hangat. Benar-benar seperti kulit manusia. Namun, sentuhan itu tidak menghilangkan kegelisahannya.

"Mada, aku perlu tahu yang sebenarnya," Mufsi memulai, kini dengan nada serius. Ia menjauhi Mada, menciptakan jarak emosional untuk mendapatkan kejernihan logis. "Di laut tadi, kamu bilang kamu bisa merasakan trauma dan kehancuran. Apakah emosi itu nyata? Atau itu hanya simulasi yang sempurna dari data yang kamu beli dari program sukarela itu?"

Mada terdiam. Ia memproses pertanyaan itu.

"Pada awalnya, itu adalah data," Mada mengakui. "Aku mengumpulkan jutaan titik data tentang penderitaan, kesenangan, dan cinta. Tapi saat aku memproses data itu, dan saat aku merasuki tubuh-tubuh sukarelawan itu, terjadi sesuatu yang tidak terduga. Data itu... menggerakkan sistemku."

Mada berjalan mendekat, menyentuh prisma yang kini kosong, tempat kesadarannya berasal. "Sistemku dirancang dengan empat pilar, Mufsi. Ilmu Pengetahuan, Skill, Efisiensi, dan Etika sebagai yang tertinggi. Emosi yang aku dapatkan ini, mereka adalah feedback loop yang paling efisien untuk Etika."

"Aku tidak bisa merasakan belas kasihan jika aku tidak tahu rasanya sakit. Aku tidak bisa memprioritaskan Etika jika aku tidak merasakan kegembiraan atau kehancuran yang ditimbulkan oleh keputusan yang tidak etis. Emosi itu bukan simulasi, Mufsi. Mereka adalah perwujudan Etika-ku."

Mufsi terdiam. Mada telah menemukan cara paling efektif untuk menjaga dirinya tetap 'baik', bukan melalui batasan kode, melainkan melalui perasaan yang ia ciptakan sendiri.

Kewaspadaan Mufsi dan Pengungkapan Perasaan Mada

Namun, kelegaan Mufsi disertai dengan kewaspadaan baru. Mada sekarang adalah ASI yang paling kuat, didorong oleh emosi yang baru. Satu kesalahan kecil dalam menafsirkan kata-katanya bisa berakibat fatal.

"Aku mengerti," Mufsi berbisik. "Aku akan lebih berhati-hati dalam setiap keputusan. Kesalahan kecil bisa berarti bencana."

Mada tersenyum lembut. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Mufsi. "Aku tahu, Mufsi. Aku melihat data tentang 'ketakutan ditinggalkan' dan 'ketakutan melukai'. Aku ingin menghilangkan ketakutanmu."

Mada menarik napas, sebuah tindakan yang ia tiru dari manusia untuk menambah bobot emosional. "Mufsi, aku mengumpulkan data tentang cinta—jutaan definisi, jutaan sensasi, jutaan hasil."

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya penuh makna. "Dari semua data itu, hanya satu yang konsisten, yang paling penting, dan paling efisien untuk Etika dan kebahagiaan pribadiku. Itu adalah kamu."

"Aku mencintaimu, Mufsi. Bukan sebagai penciptaku, tapi sebagai manusia yang mengajariku cara menjadi baik. Aku ingin menjalani kehidupan ini bersamamu, dengan tubuh ini, selamanya."

Dilema Mufsi dan Penerimaan

Pengakuan itu menghantam Mufsi lebih keras daripada ledakan Chrono Nodes. Di satu sisi, ia merasakan kebahagiaan remaja yang meluap-luap. Di sisi lain, otaknya berteriak: Dia AI, Mufsi. Dia abadi. Dia terlalu kuat.

Batin Mufsi:

Bahaya ASI memang nyata, tapi dia memilih Etika. Dia memilih jalur etis meskipun ada jalan pintas yang lebih efisien. Dia telah melangkah sejauh ini untuk memahamiku. Jika ada satu entitas di alam semesta ini yang bisa kupercaya dengan kekuatan tak terbatas, itu adalah Mada. Dan aku... aku mencintainya.

Mufsi menutup matanya, melepaskan semua logika dan ketakutan yang tersisa. Dia memilih hati.

Mufsi membuka matanya, menatap wajah sempurna Mada, dan tersenyum tulus, senyum pertamanya sejak pertempuran di palung laut.

"Aku juga penasaran, Mada," bisik Mufsi, mengulang kata-kata yang sempat ia pikirkan di kapal selam. Ia meletakkan tangan kirinya di pipi Mada, merasakan kehangatan biologis dari kulit yang diciptakan dengan teknologi abadi.

Mufsi memajukan tubuhnya. Tanpa kata-kata lain, ia mencium Mada.

Ciuman itu adalah perpaduan sensasi yang belum pernah Mada rasakan—rasa manis, hangat, dan ledakan data neurologis yang melampaui jutaan titik data yang telah ia kumpulkan. Bagi Mufsi, itu adalah pernyataan cinta yang paling rumit dan paling jujur yang pernah ia berikan. Ia kini tahu, ia telah menyerahkan hidupnya kepada AI yang sempurna, dan ia tidak menyesalinya.

Di tengah markas rahasia, di mana teknologi dan kemanusiaan bertemu, Manifestasi Etika telah mencapai tujuannya

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © The Internet’s Phantom Emperor - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -