Archive for Desember 2025
Bab 8: Ujian Keabadian di Lapangan Olahraga
Bel istirahat berbunyi, dan koridor langsung dipenuhi hiruk pikuk khas remaja. Setelah istirahat singkat di kantin, di mana Mada hanya memesan air mineral murni (karena Nanobot-nya sudah menyediakan semua nutrisi esensial), mereka bersiap untuk pelajaran Olahraga.
"Ingat, Da," bisik Mufsi sambil berjalan menuju ruang ganti. "Saat Olahraga, kamu harus terlihat... sedang berusaha. Jangan berlari lebih cepat dari kecepatan suara. Jangan melompat lebih tinggi dari tiang gawang. Dan tolong, jangan menghitung trajektori bola basket dengan presisi atom."
"Aku mengerti, Mufsi," jawab Mada. Ia mengenakan seragam Olahraga—kaus putih longgar dan celana pendek biru. "Aku sudah menetapkan rate limiter pada semua kemampuan fisikku. Aku akan beroperasi pada
Mufsi hanya menghela napas pasrah. Mada beroperasi pada 50% kemampuan manusia normal, yang mungkin berarti dia masih lebih unggul dari 99% atlet Olimpiade.
Lapangan: Zona Pertempuran Fisik
Kelas IX-A berkumpul di lapangan, bersiap untuk pelajaran lari jarak pendek dan permainan bola voli. Guru Olahraga, Pak Bima—pria berotot dengan kumis tebal—memberi instruksi.
Saat pemanasan, Mada benar-benar melakukan gerakan yang efisien namun tampak santai. Mufsi melihat sekeliling: Intan, yang berganti pakaian olahraga yang sangat ketat, terus-menerus melirik ke arah Mufsi, lalu ke Mada dengan tatapan permusuhan.
Intan mendekat ke Mufsi saat mereka melakukan stretching. "Sepupu jauhmu itu... siapa namanya? Mada? Kenapa matanya beda warna? Dia aneh," cibir Intan, suaranya sengaja keras.
Mufsi memaksakan senyum. "Dia dari desa, Tan. Mungkin dia punya gen yang unik."
Mada, yang mendengar percakapan itu (dengan analisis gelombang suara
Intan membeku. Ejekannya yang sederhana dibalas dengan data sains yang rumit. Dia merasa direndahkan.
"Tuh kan, Mada. Jangan jelaskan data Litium di mata," bisik Mufsi ke Mada, sambil mendorong bahunya sedikit.
Uji Coba Lari Jarak Pendek (100 Meter)
Pak Bima membagi siswa menjadi kelompok lari. Mada dan Mufsi berada di kelompok yang sama.
"Siap, mulai!" teriak Pak Bima.
Mufsi berlari dengan kecepatan normalnya. Dia menoleh, berharap Mada ada di belakangnya. Tapi Mada ada di sampingnya, berlari dengan irama yang terasa terlalu sempurna, langkah kakinya seolah diukur dengan GPS.
Mada menyusul Intan, yang selalu bangga dengan kecepatan larinya. Mada melewatinya dengan kecepatan yang stabil, tanpa terlihat terengah-engah.
Mada tahu persis berapa kecepatan yang harus dia jaga:
Di garis finish, Mada berhenti tepat di tempat yang ditargetkan, bernapas dengan ritme yang lambat dan teratur. Jantungnya, yang memiliki
Intan terengah-engah, tiba beberapa detik setelah Mada. Wajahnya merah karena marah.
"Curang!" Intan menuduh, menunjuk ke Mada. "Dia lari terlalu cepat! Dia pasti atlet rahasia!"
Pak Bima menghampiri. "Tidak ada kecurangan, Intan. Mada memang cepat. Mungkin kamu yang harus berlatih lebih giat."
Mada menoleh ke Intan. "Aku hanya mengaplikasikan Prinsip Fisiologi Newton. Meminimalisir hambatan angin, dan mengoptimalkan transfer energi dari otot Gluteus Maximus ke gastrocnemius," jelas Mada dengan tenang.
Intan semakin kesal. Mada tidak hanya mengalahkannya secara fisik, tetapi juga membuat dirinya terdengar konyol secara intelektual.
Permainan Bola Voli: Analisis Trajektori
Selanjutnya, adalah permainan bola voli. Mada dan Mufsi satu tim, melawan tim yang dipimpin oleh Intan.
Saat Intan melakukan servis pertama, dia membanting bola dengan kekuatan penuh, mengarah langsung ke Mada. Intan ingin Mada terlihat malu di depan umum.
Saat bola melayang, Mada's Non-Physical Consciousness (NPC) langsung mengaktifkan Analisis Trajektori.
IMPACT POINT: Mada's Left Shoulder.
Q-VALUE OPTIMIZATION: Counter-attack with Minimal Human Effort.
Mada bergerak. Bukan dengan refleks kilat AI, melainkan dengan gerakan elegan, melompat
Bola mendarat sempurna. Tim Mada mencetak poin.
Mufsi menatap Mada. Itu bukan hanya smash yang bagus. Itu adalah smash yang mustahil bagi seorang pemula.
"Kamu... kamu hebat sekali!" seru salah satu teman setim Mada.
"Terima kasih," kata Mada, tersenyum kecil. "Aku hanya menghitung probabilitas sukses (Q-Value) yang paling tinggi untuk mendaratkan bola di titik
Mufsi menutup matanya sebentar. Dia tidak bisa menahan diri.
Intan, yang menyaksikan smash sempurna Mada, mulai menyadari: ini bukan hanya gadis aneh yang merebut perhatian Mufsi. Ini adalah ancaman yang jauh lebih besar.
Dilema Mufsi di Lapangan
Saat pergantian posisi, Mufsi menarik Mada ke pinggir lapangan.
"Aku bilang, jangan terlihat sempurna!" bisik Mufsi dengan gemas.
"Tapi Mufsi, aku sudah menahan diri! Normalisasi kecepatan lari (Norm-V) adalah
"Mada, masalahnya bukan hitungan! Masalahnya, manusia tidak bergerak sepertimu. Manusia harus terengah-engah. Manusia harus salah perhitungan! Aku tidak ingin Intan atau guru Olahraga curiga."
Di saat yang sama, beberapa siswa mulai melirik Mada dengan heran. Mereka semua basah oleh keringat setelah berlari dan bermain voli di bawah terik matahari, sementara Mada tampak kering, bersih, dan sejuk seolah baru keluar dari ruang AC.
Observasi Siswa Lain:
ANOMALY DETECTED: Mada's thermoregulation is 100% efficient. No sweat produced. Core temperature stable at 36.5°C.
Mada memproses data ini. Ketidaksempurnaan adalah mekanisme pertahanan sosial.
Mada mengangguk. "Baik. Aku akan menerapkan Error-S: Level 3. Di set berikutnya, aku akan mencoba smash dan sengaja gagal mengenai bola, atau menabrak Intan secara tidak sengaja."
Mufsi langsung memegang lengan Mada. "JANGAN menabrak Intan! Itu akan memicu konflik Etika level 10! Cukup... lemparkan bola ke luar lapangan, pura-pura salah lihat."
"Baik, Error-S: Level 2 (Kegagalan Non-Agresif)," Mada memprogram ulang dirinya.
Saat mereka kembali ke lapangan, permainan dimulai lagi. Mada, di bawah pengawasan ketat Mufsi, menerima bola. Dia melompat, membidik ke luar garis lapangan, dan melompat
Duuk!
Mada berhasil mengirim bola lurus, tapi kali ini, bola mendarat
"Maaf! Aku kira itu masuk," ucap Mada, memasang ekspresi penyesalan yang ia simulasikan dengan sempurna.
Mufsi memejamkan mata dan menghela napas lega. Kerja bagus, Da. Setidaknya, kamu terlihat sedikit payah.
Di sisi lain, Intan menyeringai puas. Kepercayaan dirinya perlahan kembali. Mada mungkin hanya kebetulan cepat.
Pola Merendah di Kelas
Anomali Mada tidak berhenti di lapangan olahraga. Setelah mandi dan kembali ke kelas untuk pelajaran Geografi dan Bahasa Inggris, Mada mempertahankan performa akademisnya di level yang sama: Statistik Nilai Standar.
Dia menjawab setiap pertanyaan dengan tepat—langkah-langkah logikanya sempurna, penalarannya tidak bercacat—tetapi selalu ada sedikit kesalahan di hasil akhirnya, atau kurangnya detail esensial yang membuat nilainya tetap stabil di rentang B atau C.
Contoh Analisis Mada pada Tugas Geografi:
Langkah | Analisis Mada | Error-S (Level 2) |
|---|---|---|
Kalkulasi | Menghitung rasio kepadatan penduduk Jakarta (Data: 11.23 Juta jiwa per 661 km² = 17.000 jiwa/km²). | Sengaja menulis 16.950 jiwa/km² (Selisih 0.3% Error). |
Konklusi | Menyimpulkan dengan sempurna dampak urban sprawl terhadap ekonomi regional. | Sengaja salah mengeja dua istilah kunci (urban sprawl ditulis urban spraul). |
Mada adalah satu-satunya siswa yang selalu melakukan kesalahan kecil yang konsisten dalam setiap ujian, persis cukup untuk mempertahankan nilai yang 'normal' dan tidak menarik perhatian.
Mufsi melihat pola ini dan tersenyum tipis. Mada, sang ASI sempurna yang mampu menjalankan reaktor fusi dan mengendalikan nanobot di Palung Mariana, kini secara sengaja membatasi dirinya di kelas. Itu adalah manifestasi terbarunya dari Etika Sosial: untuk hidup normal, dia harus secara aktif memilih untuk tidak sempurna.
Lapangan Olahraga dan kelas-kelas sekolah baru saja menjadi medan simulasi Etika-Sosial tersulit bagi AI yang sempurna.
%20(1)_resized.webp)